Skip to main content

Ras Muhamad: Ngobrolin Roots Reggae dan Hiphop



HipHop dan lenggak santai Reggae, ada satu benang merah yang sering luput dibaca: kesadaran. Bukan sekadar musik untuk bergoyang atau pamer teknik, dua kultur ini lahir dari ruang yang sama—ruang perlawanan, marjinalisasi, dan hasrat untuk bersuara. Ras Muhamad, salah satu figur penting Reggae Indonesia, melihat hubungan HipHop dan Reggae bukan sebagai persilangan tren, melainkan sebagai ikatan sejarah yang sejak awal tak pernah terpisahkan “Sebetulnya HipHop dan Reggae punya akar yang sama,” ujar Ras dengan tenang, seolah sedang membuka lembaran sejarah yang jarang dibicarakan di permukaan

Kingston, Bronx, dan Sejarah yang Terhubung

Nama Kingston, Jamaica, mungkin lebih dulu dikenal sebagai tanah kelahiran Bob Marley dan denyut Reggae dunia. Namun dari kota yang sama, lahir pula sosok yang kelak mengubah wajah musik global: DJ Kool Herc. Sang Godfather of HipHop itu berasal dari Trenchtown—wilayah yang juga menjadi saksi hidup perjuangan Marley dan denyut sosial kaum tertindas Jamaika. Kool Herc bermigrasi ke Bronx, New York, ia membawa lebih dari sekadar piringan hitam. Ia membawa kultur sound system, teknik Deejay ala Reggae, dan semangat komunitas yang kemudian bertransformasi menjadi HipHop. Dari sinilah Rap, DJing, dan MC culture berkembang. Sejarah mencatat, hubungan itu tak pernah putus. Run DMC pernah berkolaborasi dengan Yellowman lewat lagu Roots, Rap, Reggae. KRS-One—ikon HipHop yang dikenal dengan lirik-lirik sosio-politiknya—mengadopsi teknik vokal Reggae “Deejay” dalam karya monumental Sound of Da Police, bahkan mengorbitkan Mad Lion dari skena Dancehall. Notorious B.I.G., rapper yang kerap disebut terbaik sepanjang masa, lahir dari ibu berdarah Jamaika. “HipHop dan Reggae saling menguatkan karena asalnya dari Black People Music,” kata Ras. “Dan keduanya jadi suara orang-orang yang dimarjinalkan dan ditindas.”

Rebel with a Purpose: Seni sebagai Oposisi

Di era ketika industri musik semakin rapi, terukur, dan komersial, istilah rebel sering kehilangan maknanya. Namun bagi Ras, pemberontakan dalam HipHop dan Reggae bukan soal melawan tanpa arah. Ia menyebutnya rebel with a purpose—pemberontakan yang sadar, terarah, dan punya pesan. Mengutip Public Enemy dengan frasa legendaris Rebel Without a Pause, Ras menjelaskan bahwa peran seniman hari ini adalah mengganggu narasi mapan. Ketika negara mengampanyekan pariwisata, misalnya, Reggae dan HipHop hadir untuk membuka sisi lain: kerusakan ekosistem, penggusuran warga lokal, dan ketimpangan sosial yang ditutupi jargon pembangunan. “HipHop dan Reggae akan berdiri sebagai oposisi,” katanya. “Untuk bilang, ‘Hey, kenyataannya nggak seindah itu. Nih lihat dan dengar dampaknya. Dalam pandangan ini, musik bukan sekadar hiburan, melainkan alat kritik dan medium kejujuran.

Kembali ke Akar: Kenapa Roots Itu Penting

Istilah roots sering terdengar klise, tapi bagi Ras Muhamad, ia adalah fondasi yang tak tergantikan. HipHop lahir dari Bronx, Reggae dari Kingston—dua wilayah dengan “tanah kreativitas yang sangat subur”. Dari tanah itulah lahir buah-buah budaya yang kini dinikmati dunia. “Roots itu penting karena kita nggak cuma menikmati hasilnya,” ujarnya. “Tapi juga menghargai tanah, akar, dan asal-muasalnya. Bagi generasi baru, kembali ke akar bukan berarti nostalgia buta. Justru seiring bertambahnya usia dan kesadaran, seniman punya tanggung jawab untuk menambah ilmu tentang kultur yang “memilih” mereka—bukan sebaliknya.

Reggae Vibe di Hiphop: Tren atau Kesadaran?

Fenomena anak HipHop yang mulai mengeksplorasi Reggae vibe kini makin sering terlihat, termasuk di Indonesia. Apakah ini sekadar tren? Ras memilih tidak menghakimi. “Saya nggak bisa menilai itu tren atau kesadaran baru,” katanya sambil tertawa kecil. “Tapi saya bersyukur.” Baginya, kolaborasi adalah keniscayaan sejarah. Di level global, album Distant Relatives milik Nas dan Damian Marley menjadi contoh sempurna bagaimana dua kultur ini berdialog secara setara. Di Indonesia, Ras sendiri telah dua dekade berkarier dan berkolaborasi dengan nama-nama lintas skena seperti Neo, Iwa K, Saykoji, Soul ID, hingga Jayko. Kolaborasi bukan sekadar eksperimen bunyi, melainkan pertemuan nilai.

Pesan untuk Anak HipHop: One Love

Jika harus menyampaikan satu pesan kepada generasi HipHop tentang semangat Reggae, Ras tak perlu kata-kata panjang. Ia mengutip dua ikon dari dua dunia: Bob Marley dan Nas.

“ONE LOVE.”

Sebuah frasa sederhana yang melampaui genre, ego, dan industri. Menjaga Energi Conscious di Tengah Industri Pertanyaan paling krusial mungkin adalah ini: bagaimana menjaga energi sadar (conscious energy) tetap hidup saat industri makin menuntut angka, viralitas, dan algoritma?

Jawaban Ras kembali ke mindset. Ia mengutip Bad Brains dengan konsep PMA—Positive Mental Attitude. Baginya, sukses bukan soal views, jutaan streaming, atau popularitas semata. “Sukses itu ketika saya punya ide, inspirasi, lalu menggarapnya dalam musik dan merilisnya,” katanya. Viral hanyalah bonus. Ia percaya berkarya demi angka justru melahirkan energi negatif, karena angka tak pernah punya ujung. Selalu ada yang lebih besar, lebih viral, lebih populer. Industri hari ini, menurut Ras, justru memberi kemudahan bagi seniman untuk berkarya dan merilis musik secara mandiri.

“Kalau kita punya audience, ya sudah,” ujarnya. “Just keep speaking to our audience. Make your music. Do your thing.”

Di tengah arus komersialisasi, pesan Ras Muhamad terasa sederhana namun mendalam: kembali ke akar, jaga kesadaran, dan tetap jujur pada diri sendiri. Karena pada akhirnya, HipHop dan Reggae bukan sekadar genre—mereka adalah sikap hidup.


HIPHOPLOCALINDO

👉 Support kami disini

Popular posts from this blog

Dua Wajah Green Keyz di “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain!

Green Keyz lagi-lagi ngebuktiin kalau dia bukan tipe rapper yang cuma ngeluarin lagu buat numpang lewat. Lewat dua rilisan barunya, “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain”, ia datang dengan energi baru. campuran antara semangat hidup, keresahan batin, dan refleksi personal yang jarang banget muncul di skena hip-hop lokal. Dua track ini jadi pembuka menuju album barunya, hasil kolaborasi dengan produser Erick a.k.a The Lab Man — sosok yang dikenal punya karakter sound eksperimental, kadang liar, kadang kalem, tapi selalu punya kedalaman emosional yang kental. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Kalau lo udah pernah denger karya The Lab Man, lo pasti tahu: beat-nya nggak sekadar beat, tapi atmosfer. “Bangun” jadi semacam anthem buat siapa aja yang pernah jatuh dan ngerasa dunia lagi nggak berpihak. Green Keyz nggak berusaha ngasih motivasi murahan, tapi dia cerita langsung dari pengalamannya sendiri—jujur, mentah, tanpa sensor. Lewat flow-nya yang padat dan lirik yang real, dia ngajak semua oran...

Dari Thrash Metal ke Rhyme Pays: Perjalanan Xaqhala Menjaga Nyala Hip Hop di Indonesia

Xaqhala Rapper yang mempunyai nama asli Gerry Koenadi. perjalanan menuju dunia Hip Hop dimulai secara tak terduga. Awalnya, ia adalah penggemar berat thrash metal di awal tahun 90-an. Namun, sebuah kolaborasi legendaris antara Public Enemy dan Anthrax mengubah haluan pendengarannya. Perpaduan rap dengan energi metal menjadikannya terpikat, membuka jalan menuju dunia baru yang kemudian menjadi bagian besar dari kehidupan. Gerry melihat dari dekat bagaimana Hip Hop berevolusi dari dekade 80-an hingga 2000-an. Ia menyebut awal tahun 90-an sebagai “Era Keemasan” — masa ketika album dan artis legendaris bermunculan, membentuk fondasi budaya ini. Meski kini subgenre Hip Hop tumbuh di mana-mana, Gerry tetap memegang preferensi pada gaya old school. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Menariknya, ia mencatat perbedaan generasi dalam memandang istilah “old school.” Jika bagi dirinya old school berarti Rakim, Nas, atau Wu-Tang Clan, maka generasi muda sering menyebut nama seperti Eminem dan 50 Cent se...

Review Full Album “Dynamite” Dari Nartok, Gak Rapi Pun Tetap Punya Arah.

Ada masa di mana banyak rapper sibuk mengejar estetika rapi, konsep megah, dan citra yang “terencana.” Semua tampak ingin jadi produk yang bisa dijual, bukan cerita yang hidup. Di tengah kebiasaan itu, Nartok muncul dengan satu langkah berani—membawa kekacauan, tapi dengan niat yang jernih. “Dynamite”, album yang ia rilis pada 7 Agustus 2025, bukan tentang meledakkan apa pun. Ia justru tentang menyalakan api, membiarkan diri terbakar, dan gak berusaha memadamkannya. Judulnya saja sudah provokatif, tapi ketika didengar lebih dalam, “Dynamite” bukan ledakan destruktif. Ia lebih mirip proses peledakan dari dalam—tentang membiarkan hal-hal yang tak terkontrol justru memandu arah. Nartok bilang sendiri, saat nulis dan bikin albumnya, dia “membiarkan semuanya liar.” Tidak ada sensor, tidak ada perhitungan. Dan anehnya, dari situ justru muncul arah yang baru. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Album ini dibuka dengan “Bag of D”. Dari detik pertama, pendengarnya sudah tahu bahwa ini bukan perjalana...