Skip to main content

Review Full Album “Dynamite” Dari Nartok, Gak Rapi Pun Tetap Punya Arah.




Ada masa di mana banyak rapper sibuk mengejar estetika rapi, konsep megah, dan citra yang “terencana.” Semua tampak ingin jadi produk yang bisa dijual, bukan cerita yang hidup. Di tengah kebiasaan itu, Nartok muncul dengan satu langkah berani—membawa kekacauan, tapi dengan niat yang jernih. “Dynamite”, album yang ia rilis pada 7 Agustus 2025, bukan tentang meledakkan apa pun. Ia justru tentang menyalakan api, membiarkan diri terbakar, dan gak berusaha memadamkannya.

Judulnya saja sudah provokatif, tapi ketika didengar lebih dalam, “Dynamite” bukan ledakan destruktif. Ia lebih mirip proses peledakan dari dalam—tentang membiarkan hal-hal yang tak terkontrol justru memandu arah. Nartok bilang sendiri, saat nulis dan bikin albumnya, dia “membiarkan semuanya liar.” Tidak ada sensor, tidak ada perhitungan. Dan anehnya, dari situ justru muncul arah yang baru.

Album ini dibuka dengan “Bag of D”. Dari detik pertama, pendengarnya sudah tahu bahwa ini bukan perjalanan yang tenang. Hook “Issa dynamite” diulang terus seperti mantra, menciptakan suasana ritual. Flow-nya mentah dan ritmenya tampak berantakan, tapi energi yang keluar dari tiap suku kata justru terasa hidup. Seolah Nartok lagi berusaha menghidupkan versi paling jujur dari dirinya sendiri.

Lalu masuk ke lagu utama, “Dynamite”, yang terasa seperti manifesto. Di sini, Nartok menolak seluruh formula rap yang terlalu rapi. Ia ngerap dengan nada menantang, penuh ejekan terhadap sistem dan rapper-rapper yang sibuk cari validasi. “Nama ku dynamite,” katanya, bukan sekadar pengen dikenal, tapi pengingat bahwa apa yang ia buat bukan produk industri. Ini bukan soal ingin jadi hebat, tapi tentang berani tetap liar ketika semua orang sibuk mencari struktur.

Setelah dua trek penuh letupan, suasana sedikit berubah di “Guess Whuz Bak”. Lagu ini masih keras, tapi lebih ke arah kepercayaan diri yang sadar diri. Ada banyak referensi dari pop culture dan gaya ngerap yang campur aduk, dari punchline lucu sampai observasi tajam. Di sini, Nartok terdengar kayak orang yang udah berdamai sama keanehannya sendiri. Kalimat “From Medan but gang feels like Detroit” menegaskan posisi itu—lokal tapi berjiwa global, keras tapi masih punya tawa.

“ Issa-Issa” datang seperti sesi freestyle di studio jam tiga pagi. Ngobrol ngalor-ngidul, nge-rap tanpa arah tapi selalu mengandung sesuatu. Tentang sepatu, mic, sampai hal-hal kecil yang absurd tapi nyata. Dari situ, album ini terasa makin jujur, karena tidak semua yang penting harus terdengar serius. Kadang yang asal-asalan justru lebih manusiawi.

“It Ma Bizz” mulai menunjukkan sisi teknis dari Nartok. Lagu ini terdengar seperti hasil dari jam terbang dan refleksi. Ia bicara tentang kerja keras, tentang bagaimana menulis bukan sekadar gaya hidup tapi bentuk disiplin batin. Flow-nya lebih tajam, punchline-nya lebih kena, tapi masih dengan nada sinis khasnya. Ada bar yang bunyinya “bikin idolamu insaf lalu nulis lebih rajin”—dan itu cukup untuk bikin siapa pun berhenti sejenak.

“Ku Dengar” jadi titik paling personal di album ini. Dengan nada lirikal yang lebih tenang, Nartok menulis seperti menulis surat untuk dirinya sendiri. Ia bicara tentang gosip, pengkhianatan, dan rasa kecewa terhadap lingkungan sekitar. “Ku dengar doa tak sesuai, ada teman dalam diam berharap karirmu usai,” katanya. Itu bukan cuma bar, tapi kalimat dari seseorang yang udah lama diam dan akhirnya berani ngomong.

“Nobel Shi” adalah bentuk refleksi yang lain. Di sini, ia terdengar nyentrik tapi bijak. Ia menyamakan proses nulis rap dengan eksperimen ilmiah. Katanya, “sex dengan pena.” Lucu, kasar, tapi punya makna dalam: tentang hubungan antara diri dan proses penciptaan. Lagu ini berat, tapi menyimpan kesadaran yang dalam tentang ego dan eksistensi.

Lalu ada “Satrio G”, lagu yang terasa paling jujur secara emosional. Nartok bercerita tentang dirinya sendiri sejak kecil sampai dewasa, tanpa filter, tanpa penghalus. Ia seolah lagi membuka arsip hidupnya dan menyusunnya jadi peta: bagaimana kehilangan, tumbuh, dan bertahan membentuk siapa dirinya hari ini. Semuanya disampaikan tanpa drama, hanya dengan gaya bercerita yang tenang tapi menusuk.

Setelah itu, “Who Let The D Out” jadi ruang untuk tertawa lagi. Nada lagu ini kembali liar, penuh sindiran ke arah rapper yang terlalu aman dan formulaik. Tapi di balik humor dan kata-kata kasarnya, ada kesadaran diri yang tinggi. Bar seperti “Jangan cap aku artis bitch, aku autis bitch” bukan provokasi kosong, tapi refleksi tajam dari seseorang yang tahu persis bagaimana dunia melihatnya—dan gak mau tunduk pada itu.

Akhirnya, “YeR” datang sebagai penutup yang pas. Liriknya random, topiknya melompat dari dopamin sampai generasi plastik, tapi ada kejujuran yang halus di dalamnya. Lagu ini terasa seperti obrolan di tengah malam setelah semua pesta selesai. Nartok gak lagi berusaha keras, dia cuma ngomong, jujur, apa adanya.

Dari awal sampai akhir, “Dynamite” bukan album yang mencari kesempurnaan. Ia tidak memaksa pendengarnya untuk suka, tapi menantang mereka untuk jujur: seberapa siap kamu menerima sesuatu yang benar-benar mentah? Karena di dalam ketidakteraturan itulah, ada arah yang muncul pelan-pelan.

Nartok membuktikan satu hal penting: rap gak perlu patokan buat bisa bermakna. Terkadang, justru di tengah kekacauan, kita menemukan kebenaran paling tenang. “Dynamite” adalah bukti bahwa asal-asalan bisa berubah jadi bahasa. Bukan karena ingin berbeda, tapi karena gak ada cara lain untuk jadi diri sendiri.


HIPHOPLOCALINDO

 

👉 Support kami disini

Popular posts from this blog

Dua Wajah Green Keyz di “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain!

Green Keyz lagi-lagi ngebuktiin kalau dia bukan tipe rapper yang cuma ngeluarin lagu buat numpang lewat. Lewat dua rilisan barunya, “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain”, ia datang dengan energi baru. campuran antara semangat hidup, keresahan batin, dan refleksi personal yang jarang banget muncul di skena hip-hop lokal. Dua track ini jadi pembuka menuju album barunya, hasil kolaborasi dengan produser Erick a.k.a The Lab Man — sosok yang dikenal punya karakter sound eksperimental, kadang liar, kadang kalem, tapi selalu punya kedalaman emosional yang kental. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Kalau lo udah pernah denger karya The Lab Man, lo pasti tahu: beat-nya nggak sekadar beat, tapi atmosfer. “Bangun” jadi semacam anthem buat siapa aja yang pernah jatuh dan ngerasa dunia lagi nggak berpihak. Green Keyz nggak berusaha ngasih motivasi murahan, tapi dia cerita langsung dari pengalamannya sendiri—jujur, mentah, tanpa sensor. Lewat flow-nya yang padat dan lirik yang real, dia ngajak semua oran...

Dari Thrash Metal ke Rhyme Pays: Perjalanan Xaqhala Menjaga Nyala Hip Hop di Indonesia

Xaqhala Rapper yang mempunyai nama asli Gerry Koenadi. perjalanan menuju dunia Hip Hop dimulai secara tak terduga. Awalnya, ia adalah penggemar berat thrash metal di awal tahun 90-an. Namun, sebuah kolaborasi legendaris antara Public Enemy dan Anthrax mengubah haluan pendengarannya. Perpaduan rap dengan energi metal menjadikannya terpikat, membuka jalan menuju dunia baru yang kemudian menjadi bagian besar dari kehidupan. Gerry melihat dari dekat bagaimana Hip Hop berevolusi dari dekade 80-an hingga 2000-an. Ia menyebut awal tahun 90-an sebagai “Era Keemasan” — masa ketika album dan artis legendaris bermunculan, membentuk fondasi budaya ini. Meski kini subgenre Hip Hop tumbuh di mana-mana, Gerry tetap memegang preferensi pada gaya old school. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Menariknya, ia mencatat perbedaan generasi dalam memandang istilah “old school.” Jika bagi dirinya old school berarti Rakim, Nas, atau Wu-Tang Clan, maka generasi muda sering menyebut nama seperti Eminem dan 50 Cent se...