Skip to main content

Dari Thrash Metal ke Rhyme Pays: Perjalanan Xaqhala Menjaga Nyala Hip Hop di Indonesia






Xaqhala Rapper yang mempunyai nama asli Gerry Koenadi. perjalanan menuju dunia Hip Hop dimulai secara tak terduga. Awalnya, ia adalah penggemar berat thrash metal di awal tahun 90-an. Namun, sebuah kolaborasi legendaris antara Public Enemy dan Anthrax mengubah haluan pendengarannya. Perpaduan rap dengan energi metal menjadikannya terpikat, membuka jalan menuju dunia baru yang kemudian menjadi bagian besar dari kehidupan.

Gerry melihat dari dekat bagaimana Hip Hop berevolusi dari dekade 80-an hingga 2000-an. Ia menyebut awal tahun 90-an sebagai “Era Keemasan” — masa ketika album dan artis legendaris bermunculan, membentuk fondasi budaya ini. Meski kini subgenre Hip Hop tumbuh di mana-mana, Gerry tetap memegang preferensi pada gaya old school.

Menariknya, ia mencatat perbedaan generasi dalam memandang istilah “old school.” Jika bagi dirinya old school berarti Rakim, Nas, atau Wu-Tang Clan, maka generasi muda sering menyebut nama seperti Eminem dan 50 Cent sebagai artis old school. Meski begitu, Gerry tidak menutup diri terhadap tren modern. Ia mengapresiasi trap maupun drill selama terasa autentik, meski mengaku kurang menyukai mumble rap dan penggunaan autotune secara berlebihan.


Lahirnya Liga Rap Battle “Rhyme Pays”


Pandemi COVID-19 menjadi titik balik lain dalam perjalanan Gerry. Dari situ, ia berdiskusi dengan Ucok Homicide Rapper asal Kota Bandung dan muncul ide untuk membangun sebuah liga rap battle bernama **Rhyme Pays** pada tahun 2022. Terinspirasi dari kesuksesan liga serupa di Filipina dan negara lain, Gerry ingin menciptakan wadah khusus bagi rapper battle di Indonesia.


Perjalanan membangun Rhyme Pays tidaklah mudah. Ia harus berjuang dengan keterbatasan dana, menunda beberapa rencana, hingga akhirnya berhasil meluncurkan acara perdana di Bintaro berkat dukungan teman dan jaringan brand lokal. Selama dua tahun, Rhyme Pays berhasil bertahan, bahkan menjadikan rap battle sebagai acara utama, bukan sekadar pelengkap.


Salah satu dampak terbesar dari Rhyme Pays adalah melahirkan nama-nama baru di kancah battle rap. Rapper seperti Flyzad dan Al Smith mulai dikenal publik lewat ajang ini. Gerry menekankan bahwa battle rap bukan sekadar adu ejek, namun membutuhkan riset, keterampilan menulis, diksi yang tepat, dan punchline yang kuat.


Ia bahkan membandingkan rap battle dengan tradisi beradu pantun di Indonesia, hanya saja dengan energi yang lebih agresif. Dari situ terlihat bagaimana budaya lokal bisa beresonansi dengan budaya Hip Hop global.


Keterbatasan anggaran membuat Rhyme Pays hanya bisa digelar di tiga kota besar: Jakarta, Bandung, dan Jogja, dengan grand final berlangsung di Jogja. Dari semua peserta, Gerry menyebut Insting, Tuan 13, dan Al Smith sebagai favoritnya, berkat konsistensi dan aura pertarungan mereka.


Meski keras dan ceplas-ceplos, Gerry menegaskan bahwa sifat itu terbentuk dari lingkungan tempat ia tumbuh. Di sana, kejujuran dan keaslian adalah hal yang mutlak. Sikap itu pula yang ia bawa dalam menjalani hidup dan membangun kultur Hip Hop.


Bagi Gerry, Hip Hop tidak bisa lepas dari akar protes dan perlawanan. Ia mengutip Public Enemy sebagai simbol bagaimana musik ini lahir dari diskriminasi dan suara rakyat. Bahkan saat ia merilis diss track pertamanya pada tahun 2009, Gerry menegaskan itu bukan karena kebencian, melainkan sebagai pengingat agar sesama rapper tetap setia pada akarnya.


Namun, perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Gerry secara jujur ​​​​mengaku menyesal pernah bersentuhan dengan narkoba, alkohol, dan gaya hidup pembohong. Menurutnya, itu adalah keputusan yang memberi dampak negatif besar.


Sejak awal, Gerry sudah memilih sendiri. Tahun 1999, Grup Rap miliknya, “Boys Got No Brain” pernah ditawari label besar. Namun, mereka menolak karena diminta mengubah kunjungan menarik demi pasar. Bagi Gerry, integritas lebih penting daripada popularitas instan, dan keputusan itu tidak pernah ia sesali.


Dengan segala perjalanan dan pengalamannya, Gerry bukan hanya seorang penikmat Hip Hop, melainkan juga penggerak yang berusaha menjaga nyala api budaya ini tetap hidup di Indonesia. Dari pesona pada kolaborasi Public Enemy x Anthrax, hingga lahirnya **Rhyme Pays** sebagai rumah bagi rapper battle lokal, Gerry menunjukkan bahwa Hip Hop lebih dari sekadar musik — ia adalah cara hidup, sikap, dan bentuk perlawanan yang abadi.


Kami membuat artikel ini dari menonton Interviewnya di kanal Youtube “New State 


Oleh HIPHOPLOCALINDO

Popular posts from this blog

Dua Wajah Green Keyz di “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain!

Green Keyz lagi-lagi ngebuktiin kalau dia bukan tipe rapper yang cuma ngeluarin lagu buat numpang lewat. Lewat dua rilisan barunya, “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain”, ia datang dengan energi baru. campuran antara semangat hidup, keresahan batin, dan refleksi personal yang jarang banget muncul di skena hip-hop lokal. Dua track ini jadi pembuka menuju album barunya, hasil kolaborasi dengan produser Erick a.k.a The Lab Man — sosok yang dikenal punya karakter sound eksperimental, kadang liar, kadang kalem, tapi selalu punya kedalaman emosional yang kental. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Kalau lo udah pernah denger karya The Lab Man, lo pasti tahu: beat-nya nggak sekadar beat, tapi atmosfer. “Bangun” jadi semacam anthem buat siapa aja yang pernah jatuh dan ngerasa dunia lagi nggak berpihak. Green Keyz nggak berusaha ngasih motivasi murahan, tapi dia cerita langsung dari pengalamannya sendiri—jujur, mentah, tanpa sensor. Lewat flow-nya yang padat dan lirik yang real, dia ngajak semua oran...

Review Full Album “Dynamite” Dari Nartok, Gak Rapi Pun Tetap Punya Arah.

Ada masa di mana banyak rapper sibuk mengejar estetika rapi, konsep megah, dan citra yang “terencana.” Semua tampak ingin jadi produk yang bisa dijual, bukan cerita yang hidup. Di tengah kebiasaan itu, Nartok muncul dengan satu langkah berani—membawa kekacauan, tapi dengan niat yang jernih. “Dynamite”, album yang ia rilis pada 7 Agustus 2025, bukan tentang meledakkan apa pun. Ia justru tentang menyalakan api, membiarkan diri terbakar, dan gak berusaha memadamkannya. Judulnya saja sudah provokatif, tapi ketika didengar lebih dalam, “Dynamite” bukan ledakan destruktif. Ia lebih mirip proses peledakan dari dalam—tentang membiarkan hal-hal yang tak terkontrol justru memandu arah. Nartok bilang sendiri, saat nulis dan bikin albumnya, dia “membiarkan semuanya liar.” Tidak ada sensor, tidak ada perhitungan. Dan anehnya, dari situ justru muncul arah yang baru. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Album ini dibuka dengan “Bag of D”. Dari detik pertama, pendengarnya sudah tahu bahwa ini bukan perjalana...