Pas gue ditanya soal skena hip-hop sekarang, jawaban gue simple: Growth! Tapi gue juga berharap perkembangan ini tidak berhenti di sini. Kalau berbicara tentang perubahan terbesar dalam beberapa tahun terakhir, saya rasa itu ada di mentalitas, industri, dan fashion. Kalau soal skill dan musik, itu urusan selera masing-masing.
Terus, soal filosofi hip-hop? Menurut gue nggak usah ribet, man. Ini tuh gerakan budaya revolusioner yang sudah mendunia, termasuk di Indonesia. Kita nggak wajib banget ngulik akar atau filosofinya kalau nggak mau. Yang penting kita tahu bahwa ini hasil akulturasi budaya asing yang masuk ke sini. Tantangannya adalah bagaimana kearifan lokal kita bisa menjadi bagian dari kultur ini tanpa kehilangan identitas.
Elemen Asli vs Perubahan
Elemen-elemen asli hip-hop masih kuat banget, mulai dari MC-ing, DJ-ing, breakdancing, sampai graffiti. Semua divisi semakin berkembang dengan platform masing-masing. Tapi, ya jelas ada perubahan. Dunia terus berjalan, dan hip-hop juga harus beradaptasi.
Tapi ada yang gue rasa kurang, yaitu pola pikir dan mental. Di industri ini tidak ada yang instan. Lo harus siap kerja keras. Dan lagi, kurangin budaya “si paling ngeerti” dalam komunitas. Kita ini adaptasi dari budaya orang, jadi nggak usah sok gatekeeper.
Komunal dan Kompetisi
Buat saya, semangat komunal itu kunci. Kita ini belum menjadi menu utama di industri, jadi gerakan akar rumput harus terus dijaga. Saya juga suka esensi kompetitif di hip-hop. Senggol-senggolan itu biasa, bagian dari kultur. Tapi, di belakang ini banyak yang baperan, baik pelaku maupun netizen. Kalau lo mudah, pindah aja ke reggae, woyoo~
Kolaborasi Generasi Lama dan Baru
Saya sangat menikmati kolaborasi sama anak-anak muda. Di label gue, Westwew, banyak roster yang jauh lebih muda dari gue. Gue sadar, gue nggak bisa pegang kemudi terus. Roda harus tetap jalan, dan generasi baru ini akan tercipta. Gue menghormati banget sama nama-nama seperti Gnarly, Undagrond Cartel dari Pontianak, Poris, dan masih banyak lagi.
Kalau masih ada daging lintas generasi, gue rasa hanya ada dua alasan: yang muda nggak tahu etika atau yang tua nggak bisa move on dari masa jayanya. Tapi biarin aja, lama-lama juga capeknya sendiri.
Ditahun 2025 apa yang baru dari Tuantigabelas?
Gue lagi ngejalanin mimpi lama gue gan. Akhirnya gue bisa nyamperin produser-produser lokal, khususnya di luar Pulau Jawa, dan workshop bareng mereka secara langsung. Gue nggak cuma pengen bikin lagu, tapi juga nyari energi baru dari proses produksinya. Nggak cuma itu, perjalanan ini juga gue dokumentasiin jadi webseries yang bisa loe tonton di YouTube. Jadi, ikut terus ya!
Setelah rilis lagu “Talari,” gue lanjut terbang ke Pontianak buat ketemu produser keren bernama Pablo. Workshop kita intens selama dua hari, dan dari situlah lahir ide lagu “Makan” yang jadi karya kedua dalam perjalanan gue kali ini.
Itu cerita gue, semoga lo juga bisa terinspirasi dari perjalanan ini. Tunggu webseries-nya di YouTube, dan sampai jumpa di karya berikutnya!
Harapan gue simpel: semua pelaku hip-hop di Indonesia bisa makan, nggak cuma sibuk saling makan. Semangat berbagi itu yang gue pegang, sama kayak nyokap gue dulu ajarin. Kalau gue makan, yang lain juga harus makan. Jadi, lagu “Makan” ini gue dedikasikan buat semua pejuang di luar sana yang nggak cuma berjuang buat diri sendiri, tapi juga buat keluarga dan orang-orang sekitar.
Buat lo yang baru terjun ke hip-hop, pesan gue cuma satu: Lakukan saja. Kalau lo suka, gaspol aja, man! Jangan ragu.
Teks oleh Yozgie
HIPHOPLOCALINDO