Musik sering kali menjadi cinta pada pandangan pertama bagi banyak musisi, tetapi bagi Prime Manifez, itu adalah cinta pada pendengaran pertama. Ia mengenang momen saat duduk di bangku kelas 3 SMA, pertama kali mendengar musik yang kini dikenalnya sebagai Hip-Hop. “Unik dan asing,” katanya, mengenang betapa musik itu menarik perhatiannya.
Namun, keinginan untuk mendalami genre itu harus dikubur sementara waktu, karena keterbatasan referensi saat itu. Baru pada tahun 2007, saat MySpace mulai populer, Prime menemukan panggung baru untuk mengeksplorasi Hip-Hop. Perkenalannya dengan DJ Paws37 dari unit Hip-Hop Tawazun asal Jogja melalui platform tersebut menjadi langkah awal perjalanan kariernya.
“DJ Paws37 dan SLYSC adalah orang yang memperkenalkan dan mengajarkan saya produksi Hip-Hop dengan metode sampling,” ujar Prime. Dari sekadar rasa penasaran hingga akhirnya terjun mendalami produksi, ia mulai mengulik sampel musik secara autodidak.
Pada tahun 2017, Prime bergabung dengan Def Bloc, sebuah kolektif yang menjadi wadah pertukaran referensi Hip-Hop. Bimbingan dari sosok seperti Bang DOYZ (Blakumuh) dan Babap MV (Morgue Vanguard) semakin mempertegas arah musikalitas Prime. Dari mereka, Prime mendapatkan tantangan untuk menemukan suara khas — identitas unik dalam musiknya. Tantangan ini dijawab Prime dengan konsistensi dan eksperimen, hingga akhirnya ia menemukan ciri khas yang tetap bertahan hingga kini.
Dalam proses kreatifnya, Prime memegang teguh prinsip minimalis. “Saya biasanya hanya menggunakan satu sumber sample utama,” jelasnya. Setelah menemukan sample yang sesuai, Prime akan mendengarkannya berulang-ulang hingga menemukan potongan terbaik untuk dirangkai menjadi satu kesatuan beat.
Namun, pendekatan ini bisa berubah jika ia menggarap proyek bersama rapper. Kolaborasi semacam itu membutuhkan brainstorming untuk menyelaraskan konsep antara produser dan artis.
Bagi Prime, setiap kolaborasi memiliki cerita unik. Namun, ia menyebut memproduseri lagu “Cadillac Problems” di album Pride of a Man milik ANKHLEJOHN sebagai salah satu momen paling berkesan. Track yang juga menampilkan Navy Blue itu adalah pencapaian besar bagi Prime, karena ia bisa berada dalam daftar produser bersama nama-nama besar seperti The Alchemist, Statik Selektah, hingga Nicholas Craven — idola-idolanya dalam memproduksi musik.
Tantangan di Dunia Produksi Musik
Meski sudah malang melintang di industri, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah minimnya apresiasi terhadap produser atau beatmaker. Selain itu, Prime menyoroti kurangnya pemahaman beberapa rapper tentang biaya produksi musik, termasuk pembelian sumber sample seperti piringan hitam atau Tracklib.
Namun, Prime punya cara jitu untuk mengatasi hal ini. “Biasanya saya cukup menjelaskan bahwa seluruh sumber sample yang saya pakai di beat saya juga berbayar, bukan unduh gratis dari YouTube,” sambil tertawa.
Kesuksesan Prime tidak lepas dari pendekatan organiknya dalam membangun koneksi internasional. Ia memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan X untuk menampilkan karya-karyanya, yang kemudian menarik perhatian rapper-rapper internasional.
“Saya bahkan pernah membuat remix sesi freestyle rapper yang saya suka, lalu mengunggahnya di media sosial sambil menandai mereka,” kata Prime. Beberapa proyek besar pun lahir dari metode ini.
Untuk para pendengarnya, Prime menyampaikan rasa terima kasih yang tulus. “Terima kasih banyak telah meluangkan waktu mendengarkan musik saya, bahkan hingga membeli rilisan digital, fisik, atau merchandise saya. Dukungan kalian sangat berarti.”
Dengan perjalanan karir yang penuh kisah inspiratif ini, Prime Manifez membuktikan bahwa dengan kerja keras, tekad, dan kreativitas, cinta pertama pada musik bisa menjadi kisah sukses yang nyata.
Teks Oleh Yozgie