Skip to main content

Ngobrol Santai Bareng Mario Zwinkle: Perjalanan, Inspirasi, dan Semangat Sapu Jagat




Ketemu sama Mario Zwinkle, rapper yang bukan cuma piawai nge-rap, tapi juga punya cara pandang unik soal hidup, karya, dan musik hip-hop di Indonesia. Di sini, kita akan ngobrol santai tentang pencampuran soal skena hip-hop, proses kreatif, hingga bocoran soal album barunya. Yuk, ayo berangkat!!

Pandangan Hari Ini: Gimana Skena Hip-Hop Indonesia Menurutmu?

“Hangat dan produktif,” jawab Mario dengan senyum santai. “Kalau bicara Jogja, kota ini menurutku salah satu yang produktivitasnya paling stabil. Bahkan sejak sebelum era digital, Jogja sudah jadi rumah buat banyak seniman yang konsisten berkarya.”

Buat Mario, Jogja itu istimewa. Bukan sekedar soal suasananya, tapi juga energi komunitasnya yang terus bergerak.

Latar Belakang Karya: Apa yang Jadi Pemicu Kamu Berkarya?

“Hadiah Dari Atas,” ucapnya singka. Menurut Mario, berkarya itu bukan sekedar keinginan, tapi juga semacam panggilan.

Proses Kreatif: Gimana Cara Kamu Membuat Lagu?

Mario berbagi kalau dia tidak pernah memaksakan tema tertentu dalam karyanya. “Aku selalu menganggap karyaku sebagai arsip pendewasaan diri. Apa yang kutulis biasanya muncul dari pergolakan batin yang terus aku pertanyakan kepada Tuhan,” jelasnya.

Dia juga nyebut konsep Tawakkal dalam Islam sebagai pegangan. “Aku percaya segala sesuatu adalah anugerah. Jadi, apa yang tertulis ya biasanya jawaban dari semua itu.”

Inspirasi Lokal: Pentingnya Membuat Kamu?

“Besaaaar banget!” katanya tegas. Mario percaya nggak ada yang benar-benar baru di bawah matahari, seperti kata Frank Ocean: *Telah hidup dalam sebuah ide, sebuah ide dari pikiran orang lain.*

“Bahkan hal kecil sekalipun yang pernah bersinggungan dengan siapa kita, pasti punya peran dalam membentuk kita hari ini,” tambahnya.

Tantangan: Apa Kamu Hadapi Sebagai Rapper di Indonesia?

“Tidak terlalu banyak sih. Sejauh ini semuanya baik-baik saja,” katanya sambil tertawa kecil. “Tantangan pasti ada, tapi selalu ada solusi. Dan buatku, ibadah itu jadi pintu utama buat nemuin solusi.”

Jawaban ini membuat suasana semakin santai, sekaligus menikmati pelajaran berharga.

Karya Favorit: Ada Lagu yang Jadi Favoritmu?

Mario nggak pilih satu. “Setiap lagu itu punya nilai sentimental masing-masing. Jadi, nggak adil rasanya kalau harus memilih salah satu sebagai favorit,” jelasnya. Buat dia, setiap karya saling melengkapi dan punya makna tersendiri.

Karya Terbaru: Ada Bocoran Nih?

Mario dengan antusias bilang kalau dia lagi ngerjain album keduanya, *SAPU JAGAT*. Album ini bakal jadi kelanjutan dari perjalanan musiknya, dan pastinya patut ditunggu!

“Sapu Jagat” menggambarkan proses introspeksi, menghapus jejak kesalahan masa lalu, dan membangun harapan baru. Setiap lagu dalam album ini adalah refleksi dari perjalanan batin menuju pembersihan.

Pesan untuk Mendengar: Apa yang Ingin Kamu Sampaikan?

"Semangat dan jangan lupa kerja. Karena keluarga juga perlu diajak belanja. Damai," katanya sambil ketawa.

Obrolan sama Mario Zwinkle ini bukan sekedar ngasih wawasan soal musik hip-hop, tapi juga tentang cara dia melihat hidup dan karya. Dengan album barunya yang akan datang, SAPU JAGAT, kita bakal diajak masuk lebih dalam dari kaca mata Mario memaknai Hidup. Jangan lupa dengar, dukung, dan terus semangat, Pren!


Teks oleh Yozgie

HIPHOPLOCALINDO

Popular posts from this blog

Dua Wajah Green Keyz di “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain!

Green Keyz lagi-lagi ngebuktiin kalau dia bukan tipe rapper yang cuma ngeluarin lagu buat numpang lewat. Lewat dua rilisan barunya, “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain”, ia datang dengan energi baru. campuran antara semangat hidup, keresahan batin, dan refleksi personal yang jarang banget muncul di skena hip-hop lokal. Dua track ini jadi pembuka menuju album barunya, hasil kolaborasi dengan produser Erick a.k.a The Lab Man — sosok yang dikenal punya karakter sound eksperimental, kadang liar, kadang kalem, tapi selalu punya kedalaman emosional yang kental. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Kalau lo udah pernah denger karya The Lab Man, lo pasti tahu: beat-nya nggak sekadar beat, tapi atmosfer. “Bangun” jadi semacam anthem buat siapa aja yang pernah jatuh dan ngerasa dunia lagi nggak berpihak. Green Keyz nggak berusaha ngasih motivasi murahan, tapi dia cerita langsung dari pengalamannya sendiri—jujur, mentah, tanpa sensor. Lewat flow-nya yang padat dan lirik yang real, dia ngajak semua oran...

Dari Thrash Metal ke Rhyme Pays: Perjalanan Xaqhala Menjaga Nyala Hip Hop di Indonesia

Xaqhala Rapper yang mempunyai nama asli Gerry Koenadi. perjalanan menuju dunia Hip Hop dimulai secara tak terduga. Awalnya, ia adalah penggemar berat thrash metal di awal tahun 90-an. Namun, sebuah kolaborasi legendaris antara Public Enemy dan Anthrax mengubah haluan pendengarannya. Perpaduan rap dengan energi metal menjadikannya terpikat, membuka jalan menuju dunia baru yang kemudian menjadi bagian besar dari kehidupan. Gerry melihat dari dekat bagaimana Hip Hop berevolusi dari dekade 80-an hingga 2000-an. Ia menyebut awal tahun 90-an sebagai “Era Keemasan” — masa ketika album dan artis legendaris bermunculan, membentuk fondasi budaya ini. Meski kini subgenre Hip Hop tumbuh di mana-mana, Gerry tetap memegang preferensi pada gaya old school. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Menariknya, ia mencatat perbedaan generasi dalam memandang istilah “old school.” Jika bagi dirinya old school berarti Rakim, Nas, atau Wu-Tang Clan, maka generasi muda sering menyebut nama seperti Eminem dan 50 Cent se...

Review Full Album “Dynamite” Dari Nartok, Gak Rapi Pun Tetap Punya Arah.

Ada masa di mana banyak rapper sibuk mengejar estetika rapi, konsep megah, dan citra yang “terencana.” Semua tampak ingin jadi produk yang bisa dijual, bukan cerita yang hidup. Di tengah kebiasaan itu, Nartok muncul dengan satu langkah berani—membawa kekacauan, tapi dengan niat yang jernih. “Dynamite”, album yang ia rilis pada 7 Agustus 2025, bukan tentang meledakkan apa pun. Ia justru tentang menyalakan api, membiarkan diri terbakar, dan gak berusaha memadamkannya. Judulnya saja sudah provokatif, tapi ketika didengar lebih dalam, “Dynamite” bukan ledakan destruktif. Ia lebih mirip proses peledakan dari dalam—tentang membiarkan hal-hal yang tak terkontrol justru memandu arah. Nartok bilang sendiri, saat nulis dan bikin albumnya, dia “membiarkan semuanya liar.” Tidak ada sensor, tidak ada perhitungan. Dan anehnya, dari situ justru muncul arah yang baru. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Album ini dibuka dengan “Bag of D”. Dari detik pertama, pendengarnya sudah tahu bahwa ini bukan perjalana...