Skip to main content

Ngobrol bareng Ben Utomo!




Pren kali ini, kita mendapat kesempatan buat Ngobrol-ngobrol bareng Ben Utomo! rapper yang aktif buat pergerakan di skena hip-hop Indo ini ngasih wawasan soal dunia musik, proses kreatif, sampai pesan buat teman teman yang baru mulai karir. Yuk simak percakapan seru kita!


Tentang Skena Hip-Hop Indo Sekarang “Dope,” jawab Ben. “Banyak suara baru, pelakunya makin banyak juga, dan keren.” Emang bener sih, sekarang makin banyak warna baru di hip-hop Indo, dari yang old school sampai trap, semuanya makin berkembang.



Proses Kreatif Bikin Lagu Setiap rapper punya cara sendiri dalam bikin karya, dan menurut ben. “Beda-beda sih,” katanya. “Tapi paling sering dengerin beat dulu baru tulis lirik, lalu record.” Sederhana, tapi kuat. Beat jadi awal segalanya sebelum lirik-lirik keluar.


Skema Rima dan Flow yang Fresh Kalau lo penasaran kenapa rima dan flow-nya Ben selalu fresh, ini rahasianya: “Latihan, studioan bareng musisi lain, mau belajar, dan selalu berani coba sesuatu yang baru.” Kuncinya, jangan pernah puas dan terus eksplorasi.


Proyek Apa Tahun Ini? Kabar gembira buat semua penggemar hip-hop! “New Jakarta Cypher,” ungkap Ben soal salah satu proyek yang akan keluar. “Dan untuk gua pribadi, akan ada beberapa single.” Jadi, siap-siap buat bangers baru dari Ben Utomo tahun ini!


Generasi Lama dan Generasi Baru “Sekarang sudah bagus, nggak kayak dulu,” kata Ben soal hubungan antara generasi lama dan baru di hip-hop. “Dan gua selalu berusaha mencari yang baru untuk gua ajak kerja sama.” Hormati generasi antar generasi makin solid, dan itu bikin skena ini makin sehat.


Harapan untuk Hip-Hop Indonesia Klasik, tapi penting. “Semoga bisa mainstream, bukan hanya artist-nya tapi genre-nya,” ujar Ben. Ini harapan yang sudah lama banget jadi mimpi banyak orang di skena hip-hop kita.


Pesan terakhir dong ben buat penutup dialog ini “Dengarkan dan jadikan apa yang kamu sukai,” Kata Ben. “Kalau lo lakuin yang lo suka, lo akan lebih bahagia karena lo lakuin tanpa beban dan ekspektasi.” Kata-kata bijak dari seorang yang sudah makan asam garam di dunia hip-hop. Jadi, buat lo yang baru mulai, ingat kata-kata ini ya!


Obrolan sama Ben Utomo ini nggak cuma inspiratif, tapi juga ngebuka mata soal bagaimana dunia hip-hop Indo terus berkembang. Teruslah bekerja keras, dan mari dorong budaya ini ke depan!


Teks by yozgie


HIPHOPLOCALIND 

Popular posts from this blog

Dua Wajah Green Keyz di “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain!

Green Keyz lagi-lagi ngebuktiin kalau dia bukan tipe rapper yang cuma ngeluarin lagu buat numpang lewat. Lewat dua rilisan barunya, “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain”, ia datang dengan energi baru. campuran antara semangat hidup, keresahan batin, dan refleksi personal yang jarang banget muncul di skena hip-hop lokal. Dua track ini jadi pembuka menuju album barunya, hasil kolaborasi dengan produser Erick a.k.a The Lab Man — sosok yang dikenal punya karakter sound eksperimental, kadang liar, kadang kalem, tapi selalu punya kedalaman emosional yang kental. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Kalau lo udah pernah denger karya The Lab Man, lo pasti tahu: beat-nya nggak sekadar beat, tapi atmosfer. “Bangun” jadi semacam anthem buat siapa aja yang pernah jatuh dan ngerasa dunia lagi nggak berpihak. Green Keyz nggak berusaha ngasih motivasi murahan, tapi dia cerita langsung dari pengalamannya sendiri—jujur, mentah, tanpa sensor. Lewat flow-nya yang padat dan lirik yang real, dia ngajak semua oran...

Dari Thrash Metal ke Rhyme Pays: Perjalanan Xaqhala Menjaga Nyala Hip Hop di Indonesia

Xaqhala Rapper yang mempunyai nama asli Gerry Koenadi. perjalanan menuju dunia Hip Hop dimulai secara tak terduga. Awalnya, ia adalah penggemar berat thrash metal di awal tahun 90-an. Namun, sebuah kolaborasi legendaris antara Public Enemy dan Anthrax mengubah haluan pendengarannya. Perpaduan rap dengan energi metal menjadikannya terpikat, membuka jalan menuju dunia baru yang kemudian menjadi bagian besar dari kehidupan. Gerry melihat dari dekat bagaimana Hip Hop berevolusi dari dekade 80-an hingga 2000-an. Ia menyebut awal tahun 90-an sebagai “Era Keemasan” — masa ketika album dan artis legendaris bermunculan, membentuk fondasi budaya ini. Meski kini subgenre Hip Hop tumbuh di mana-mana, Gerry tetap memegang preferensi pada gaya old school. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Menariknya, ia mencatat perbedaan generasi dalam memandang istilah “old school.” Jika bagi dirinya old school berarti Rakim, Nas, atau Wu-Tang Clan, maka generasi muda sering menyebut nama seperti Eminem dan 50 Cent se...

Review Full Album “Dynamite” Dari Nartok, Gak Rapi Pun Tetap Punya Arah.

Ada masa di mana banyak rapper sibuk mengejar estetika rapi, konsep megah, dan citra yang “terencana.” Semua tampak ingin jadi produk yang bisa dijual, bukan cerita yang hidup. Di tengah kebiasaan itu, Nartok muncul dengan satu langkah berani—membawa kekacauan, tapi dengan niat yang jernih. “Dynamite”, album yang ia rilis pada 7 Agustus 2025, bukan tentang meledakkan apa pun. Ia justru tentang menyalakan api, membiarkan diri terbakar, dan gak berusaha memadamkannya. Judulnya saja sudah provokatif, tapi ketika didengar lebih dalam, “Dynamite” bukan ledakan destruktif. Ia lebih mirip proses peledakan dari dalam—tentang membiarkan hal-hal yang tak terkontrol justru memandu arah. Nartok bilang sendiri, saat nulis dan bikin albumnya, dia “membiarkan semuanya liar.” Tidak ada sensor, tidak ada perhitungan. Dan anehnya, dari situ justru muncul arah yang baru. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Album ini dibuka dengan “Bag of D”. Dari detik pertama, pendengarnya sudah tahu bahwa ini bukan perjalana...