Skip to main content

Laga Papi Tampil”: The Bam Bicara Soal Pede, Keresahan, dan Bapak-Bapak yang Diam-Diam Lelah




Kalau lo denger judul lagu “Laga Papi Tampil”, kesannya mungkin kayak ajakan buat tampil percaya diri, jadi pusat perhatian, atau nunjukin jati diri. Tapi menurut The Bam, makna 'Papi' di sini jauh lebih luas. Bukan sekedar mengubah ego maskulin, tapi semacam energi yang bisa dimiliki siapa pun.

"Sekarang, 'Papi' sudah bukan hanya satu sosok. Semua orang bisa menjadi 'Papi' dalam dirinya sendiri," kata The Bam. “Nggak peduli lo cowok-cewek, tua-muda. Selama lo punya keberanian buat berdiri dan jadi diri lo sendiri, lo udah jadi Papi.”

Visual Jalanan & Senyum yang Gak Sempurna

Salah satu kekuatan utama dari lagu ini justru muncul melalui video klipnya. Nggak banyak setting fancy atau treatment visual yang sok edgy. Yang ditampilkan hanyalah keseharian — terutama satu titik kecil di Bandung: pertigaan Pusdai.

Di sana, The Bam bertemu dengan sosok Mang Hakim, pria paruh baya yang setia menyapa orang-orang di tengah kemacetan. Senyumnya ramah, atau dalam bahasa Sunda: soméah. Tapi di balik senyuman itu, The Bam ngelihat sesuatu yang lebih dalam.

"Wajahnya bisa berubah dalam hitungan detik. Dari senyum ke kosong. Mungkin karena capek, mungkin karena banyak yang dipikirin. Tapi tetap harus senyum karena tuntutan peran. Profesionalitas, istilahnya."

Lagu Ini Lahir dari Lelah yang Ditahan

Bukan cuma soal visual, “Laga Papi Tampil” juga lahir dari perasaan yang familiar banget buat banyak orang: kerja keras, capek, tapi nggak bisa berhenti karena… ya, dapur harus tetap ngebul.

"Aku juga ngalamin itu. Rasa lelah kerja tapi dihargai tidak seimbang. Kayaknya semua orang yang kerja pasti ngeerti rasanya. Makanya lagu ini cukup personal."

Dan karena itu pula, proses kreatifnya pun dibalut keseharian. Bolak-balik DAW, nge-digging sample, nulis lirik di sela kerjaan freelance. Bukan proses studio mewah, tapi justru dari ruang-ruang kecil yang penuh kontemplasi dan lamunan.

Kritik Sosial yang Nggak Ditutupin

Si Bam nggak berusaha ngejilat siapa pun lewat liriknya. Justru sebaliknya, kritik sosialnya terasa sangat lugas dan jujur. Ditanya soal pesan utama lagu ini, penjelasan sederhana tapi nyentil:

"Dear bos, FUCK YOU! Mungkin itu aja."

Meski baru ngerilis beberapa track, The Bam punya sikap yang jelas soal scene hip hop Tanah Air. Dia sadar, dirinya belum besar. Tapi bukan berarti harus berhati-hati.

"Pelajaran pertama seorang MC itu harus PD. Kalau ditanya lagu ini? Mungkin ini semacam pencerahan buat MC yang hanya bikin lirik posisi satu bar dan diulang-ulang selama tiga menit."

Rencana ke Depan?

Setelah “Laga Papi Tampil”, The Bam belum mau berjanji terlalu banyak. Tapi yang pasti, dia masih punya sesuatu yang lagi disiapkan.

"Mungkin akan ada satu track lepas lagi setelah ini. Albumnya? Kolaborasi? Belum tahu kapan. Tapi ditunggu aja."

Dan kalau harus dirangkum jadi satu kalimat?

“Sejatinya kondisi bapak-bapak, sedang tidak baik-baik saja.”


Teks oleh Yozgie


HIPHOPLOCALINDO

Popular posts from this blog

Dua Wajah Green Keyz di “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain!

Green Keyz lagi-lagi ngebuktiin kalau dia bukan tipe rapper yang cuma ngeluarin lagu buat numpang lewat. Lewat dua rilisan barunya, “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain”, ia datang dengan energi baru. campuran antara semangat hidup, keresahan batin, dan refleksi personal yang jarang banget muncul di skena hip-hop lokal. Dua track ini jadi pembuka menuju album barunya, hasil kolaborasi dengan produser Erick a.k.a The Lab Man — sosok yang dikenal punya karakter sound eksperimental, kadang liar, kadang kalem, tapi selalu punya kedalaman emosional yang kental. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Kalau lo udah pernah denger karya The Lab Man, lo pasti tahu: beat-nya nggak sekadar beat, tapi atmosfer. “Bangun” jadi semacam anthem buat siapa aja yang pernah jatuh dan ngerasa dunia lagi nggak berpihak. Green Keyz nggak berusaha ngasih motivasi murahan, tapi dia cerita langsung dari pengalamannya sendiri—jujur, mentah, tanpa sensor. Lewat flow-nya yang padat dan lirik yang real, dia ngajak semua oran...

Dari Thrash Metal ke Rhyme Pays: Perjalanan Xaqhala Menjaga Nyala Hip Hop di Indonesia

Xaqhala Rapper yang mempunyai nama asli Gerry Koenadi. perjalanan menuju dunia Hip Hop dimulai secara tak terduga. Awalnya, ia adalah penggemar berat thrash metal di awal tahun 90-an. Namun, sebuah kolaborasi legendaris antara Public Enemy dan Anthrax mengubah haluan pendengarannya. Perpaduan rap dengan energi metal menjadikannya terpikat, membuka jalan menuju dunia baru yang kemudian menjadi bagian besar dari kehidupan. Gerry melihat dari dekat bagaimana Hip Hop berevolusi dari dekade 80-an hingga 2000-an. Ia menyebut awal tahun 90-an sebagai “Era Keemasan” — masa ketika album dan artis legendaris bermunculan, membentuk fondasi budaya ini. Meski kini subgenre Hip Hop tumbuh di mana-mana, Gerry tetap memegang preferensi pada gaya old school. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Menariknya, ia mencatat perbedaan generasi dalam memandang istilah “old school.” Jika bagi dirinya old school berarti Rakim, Nas, atau Wu-Tang Clan, maka generasi muda sering menyebut nama seperti Eminem dan 50 Cent se...

Review Full Album “Dynamite” Dari Nartok, Gak Rapi Pun Tetap Punya Arah.

Ada masa di mana banyak rapper sibuk mengejar estetika rapi, konsep megah, dan citra yang “terencana.” Semua tampak ingin jadi produk yang bisa dijual, bukan cerita yang hidup. Di tengah kebiasaan itu, Nartok muncul dengan satu langkah berani—membawa kekacauan, tapi dengan niat yang jernih. “Dynamite”, album yang ia rilis pada 7 Agustus 2025, bukan tentang meledakkan apa pun. Ia justru tentang menyalakan api, membiarkan diri terbakar, dan gak berusaha memadamkannya. Judulnya saja sudah provokatif, tapi ketika didengar lebih dalam, “Dynamite” bukan ledakan destruktif. Ia lebih mirip proses peledakan dari dalam—tentang membiarkan hal-hal yang tak terkontrol justru memandu arah. Nartok bilang sendiri, saat nulis dan bikin albumnya, dia “membiarkan semuanya liar.” Tidak ada sensor, tidak ada perhitungan. Dan anehnya, dari situ justru muncul arah yang baru. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Album ini dibuka dengan “Bag of D”. Dari detik pertama, pendengarnya sudah tahu bahwa ini bukan perjalana...