Skip to main content

Katababa Rilis Lagu “Stop Tawuran”, Pesan Sayang untuk Generasi Muda




Maraknya aksi tawuran di kalangan remaja kini menjadi perhatian serius. Tak sedikit generasi muda yang rela mempertaruhkan nyawa hanya demi ajang gengsi dan eksistensi. Fenomena ini menjadi latar belakang bagi musisi Katababa dalam menciptakan lagu terbarunya yang berjudul “Stop Tawuran”.

Lagu ini hadir sebagai refleksi dan pengalaman pribadi Katababa di masa lalu. Ia pernah berada dalam fase pergaulan yang penuh kekerasan, tetapi masih memiliki rasa iba. Berbeda dengan tren tawuran saat ini yang semakin brutal, bahkan menjadikan aksi kekerasan sebagai konten media sosial.



"Tawuran di era sekarang mengakibatkan buntu otak, dan dijadikan kebutuhan berkonten. Setiap aksi tawuran dijadikan untuk keperluan konten dan di-upload di media sosial," kata Katababa dalam lirik lagunya.

Ia menekankan bahwa kehidupan bukan hanya tentang keberanian atau nyali besar, tetapi bagaimana seseorang bisa hidup aman di dunia dan memiliki bekal untuk akhirat. Dalam lagu ini, Katababa juga mengingatkan para remaja agar berpikir lebih jauh ke depan dan tidak membuat orang tua mereka menangis karena luka, penjara, atau bahkan kehilangan nyawa akibat tawuran.

Pesan yang dibawa dalam “Stop Tawuran” begitu kuat dan emosional. Katababa mengajak anak muda untuk lebih menghargai hidup, terutama bagi mereka yang masih memiliki orang tua. Ia juga memberi semangat kepada mereka yang telah kehilangan orang tua agar bisa berpikir panjang dalam menghadapi kerasnya hidup.

"Gue nggak nyalahin lu yang masih betah di ajang tawuran, cuma gue merasa sayang sama lu semua. Jangan sampai ibu lu menetaskan air matanya cuma gara-gara lu luka atau di penjara, apalagi sampai mati," lanjutnya dalam lirik.

Dengan lagu ini, Katababa berharap bisa membuka mata banyak remaja untuk meninggalkan lingkaran kekerasan. Ia ingin generasi muda lebih fokus pada masa depan yang lebih baik, bukan terjebak dalam gengsi semu yang hanya berakhir pada penyesalan.

Lagu “Stop Tawuran” sudah dirilis dan bisa didengarkan!

Saluran Youtube www.youtube.com/@katababa_


HIPHOPLOCALINDO

Popular posts from this blog

Dua Wajah Green Keyz di “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain!

Green Keyz lagi-lagi ngebuktiin kalau dia bukan tipe rapper yang cuma ngeluarin lagu buat numpang lewat. Lewat dua rilisan barunya, “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain”, ia datang dengan energi baru. campuran antara semangat hidup, keresahan batin, dan refleksi personal yang jarang banget muncul di skena hip-hop lokal. Dua track ini jadi pembuka menuju album barunya, hasil kolaborasi dengan produser Erick a.k.a The Lab Man — sosok yang dikenal punya karakter sound eksperimental, kadang liar, kadang kalem, tapi selalu punya kedalaman emosional yang kental. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Kalau lo udah pernah denger karya The Lab Man, lo pasti tahu: beat-nya nggak sekadar beat, tapi atmosfer. “Bangun” jadi semacam anthem buat siapa aja yang pernah jatuh dan ngerasa dunia lagi nggak berpihak. Green Keyz nggak berusaha ngasih motivasi murahan, tapi dia cerita langsung dari pengalamannya sendiri—jujur, mentah, tanpa sensor. Lewat flow-nya yang padat dan lirik yang real, dia ngajak semua oran...

Dari Thrash Metal ke Rhyme Pays: Perjalanan Xaqhala Menjaga Nyala Hip Hop di Indonesia

Xaqhala Rapper yang mempunyai nama asli Gerry Koenadi. perjalanan menuju dunia Hip Hop dimulai secara tak terduga. Awalnya, ia adalah penggemar berat thrash metal di awal tahun 90-an. Namun, sebuah kolaborasi legendaris antara Public Enemy dan Anthrax mengubah haluan pendengarannya. Perpaduan rap dengan energi metal menjadikannya terpikat, membuka jalan menuju dunia baru yang kemudian menjadi bagian besar dari kehidupan. Gerry melihat dari dekat bagaimana Hip Hop berevolusi dari dekade 80-an hingga 2000-an. Ia menyebut awal tahun 90-an sebagai “Era Keemasan” — masa ketika album dan artis legendaris bermunculan, membentuk fondasi budaya ini. Meski kini subgenre Hip Hop tumbuh di mana-mana, Gerry tetap memegang preferensi pada gaya old school. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Menariknya, ia mencatat perbedaan generasi dalam memandang istilah “old school.” Jika bagi dirinya old school berarti Rakim, Nas, atau Wu-Tang Clan, maka generasi muda sering menyebut nama seperti Eminem dan 50 Cent se...

Review Full Album “Dynamite” Dari Nartok, Gak Rapi Pun Tetap Punya Arah.

Ada masa di mana banyak rapper sibuk mengejar estetika rapi, konsep megah, dan citra yang “terencana.” Semua tampak ingin jadi produk yang bisa dijual, bukan cerita yang hidup. Di tengah kebiasaan itu, Nartok muncul dengan satu langkah berani—membawa kekacauan, tapi dengan niat yang jernih. “Dynamite”, album yang ia rilis pada 7 Agustus 2025, bukan tentang meledakkan apa pun. Ia justru tentang menyalakan api, membiarkan diri terbakar, dan gak berusaha memadamkannya. Judulnya saja sudah provokatif, tapi ketika didengar lebih dalam, “Dynamite” bukan ledakan destruktif. Ia lebih mirip proses peledakan dari dalam—tentang membiarkan hal-hal yang tak terkontrol justru memandu arah. Nartok bilang sendiri, saat nulis dan bikin albumnya, dia “membiarkan semuanya liar.” Tidak ada sensor, tidak ada perhitungan. Dan anehnya, dari situ justru muncul arah yang baru. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Album ini dibuka dengan “Bag of D”. Dari detik pertama, pendengarnya sudah tahu bahwa ini bukan perjalana...