Di tengah banjir musik instan yang dikejar algoritma, DIRAYHA dan ANARKAY meluncurkan sesuatu yang gak bisa lo telan sekali dengar. Bibliomansi bukan sekadar lagu rap ini lebih mirip kitab gelap yang dibacain lewat beat.
Judul Bibliomansi sendiri udah ngasih petunjuk. Bibliomansi adalah praktik kuno mencari jawaban melalui teks suci atau buku gaib. Tapi di tangan dua MC ini, buku suci bisa berubah menjadi komik Nobita, katalog mantra, atau bahkan laci tempat kucing keluar bawa bom pipa. Sungguh, tidak masuk akal, tapi tetap nyambung di semesta mereka.
Rap di sini jadi ritual. Kata-kata mereka bukan hanya lucunya, tapi doa, kutukan, dan ramalan yang dilontarkan ke telinga pendengar.
Di antara lirik yang padat metafora, ada sindiran keras buat mereka yang masih main aman: rapper OG palsu, pantun klise, hingga sistem yang dipuja buta. Mereka bahkan manggil PPSU dan Pandawara, ikon pembersih kota, untuk mengangkut “sampah rap” dari kancah musik.
Tapi jangan salah, *Bibliomansi* bukan hanya tentang ngelabrak. Lagu ini juga bikin ruang untuk mantra—baris-baris yang bisa bikin Sadako ngamuk atau justru bikin lo mikir ulang soal hidup yang fana kayak fatamorgana.
Mereka nyebut karya ini “hip hop gorong-gorong core i3.” Itu bukan sekadar lelucon. Istilah ini nunjukin kalau musik mereka lahir dari bawah tanah, dari selokan tempat suara yang jarang mendapat sorotan. Bukan panggung mewah, bukan billboard, tapi ruang gelap yang justru penuh daya ledak.
Bibliomansi bukan lagu yang dibuat sekali lalu skip. Ini kayak kitab yang lo buka sembarang halaman, terus nemu kalimat yang bikin lo mikir.
HIPHOPLOCALINDO