Skip to main content

Dirayha x Anarkay: Bibliomansi: Saat Rap Jadi Kitab Mantra

Di tengah banjir musik instan yang dikejar algoritma, DIRAYHA dan ANARKAY meluncurkan sesuatu yang gak bisa lo telan sekali dengar. Bibliomansi bukan sekadar lagu rap ini lebih mirip kitab gelap yang dibacain lewat beat.

Judul Bibliomansi sendiri udah ngasih petunjuk. Bibliomansi adalah praktik kuno mencari jawaban melalui teks suci atau buku gaib. Tapi di tangan dua MC ini, buku suci bisa berubah menjadi komik Nobita, katalog mantra, atau bahkan laci tempat kucing keluar bawa bom pipa. Sungguh, tidak masuk akal, tapi tetap nyambung di semesta mereka.



Rap di sini jadi ritual. Kata-kata mereka bukan hanya lucunya, tapi doa, kutukan, dan ramalan yang dilontarkan ke telinga pendengar.

Di antara lirik yang padat metafora, ada sindiran keras buat mereka yang masih main aman: rapper OG palsu, pantun klise, hingga sistem yang dipuja buta. Mereka bahkan manggil PPSU dan Pandawara, ikon pembersih kota, untuk mengangkut “sampah rap” dari kancah musik.

Tapi jangan salah, *Bibliomansi* bukan hanya tentang ngelabrak. Lagu ini juga bikin ruang untuk mantra—baris-baris yang bisa bikin Sadako ngamuk atau justru bikin lo mikir ulang soal hidup yang fana kayak fatamorgana.

Mereka nyebut karya ini “hip hop gorong-gorong core i3.” Itu bukan sekadar lelucon. Istilah ini nunjukin kalau musik mereka lahir dari bawah tanah, dari selokan tempat suara yang jarang mendapat sorotan. Bukan panggung mewah, bukan billboard, tapi ruang gelap yang justru penuh daya ledak.

Bibliomansi bukan lagu yang dibuat sekali lalu skip. Ini kayak kitab yang lo buka sembarang halaman, terus nemu kalimat yang bikin lo mikir.


HIPHOPLOCALINDO

Popular posts from this blog

Dua Wajah Green Keyz di “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain!

Green Keyz lagi-lagi ngebuktiin kalau dia bukan tipe rapper yang cuma ngeluarin lagu buat numpang lewat. Lewat dua rilisan barunya, “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain”, ia datang dengan energi baru. campuran antara semangat hidup, keresahan batin, dan refleksi personal yang jarang banget muncul di skena hip-hop lokal. Dua track ini jadi pembuka menuju album barunya, hasil kolaborasi dengan produser Erick a.k.a The Lab Man — sosok yang dikenal punya karakter sound eksperimental, kadang liar, kadang kalem, tapi selalu punya kedalaman emosional yang kental. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Kalau lo udah pernah denger karya The Lab Man, lo pasti tahu: beat-nya nggak sekadar beat, tapi atmosfer. “Bangun” jadi semacam anthem buat siapa aja yang pernah jatuh dan ngerasa dunia lagi nggak berpihak. Green Keyz nggak berusaha ngasih motivasi murahan, tapi dia cerita langsung dari pengalamannya sendiri—jujur, mentah, tanpa sensor. Lewat flow-nya yang padat dan lirik yang real, dia ngajak semua oran...

Dari Thrash Metal ke Rhyme Pays: Perjalanan Xaqhala Menjaga Nyala Hip Hop di Indonesia

Xaqhala Rapper yang mempunyai nama asli Gerry Koenadi. perjalanan menuju dunia Hip Hop dimulai secara tak terduga. Awalnya, ia adalah penggemar berat thrash metal di awal tahun 90-an. Namun, sebuah kolaborasi legendaris antara Public Enemy dan Anthrax mengubah haluan pendengarannya. Perpaduan rap dengan energi metal menjadikannya terpikat, membuka jalan menuju dunia baru yang kemudian menjadi bagian besar dari kehidupan. Gerry melihat dari dekat bagaimana Hip Hop berevolusi dari dekade 80-an hingga 2000-an. Ia menyebut awal tahun 90-an sebagai “Era Keemasan” — masa ketika album dan artis legendaris bermunculan, membentuk fondasi budaya ini. Meski kini subgenre Hip Hop tumbuh di mana-mana, Gerry tetap memegang preferensi pada gaya old school. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Menariknya, ia mencatat perbedaan generasi dalam memandang istilah “old school.” Jika bagi dirinya old school berarti Rakim, Nas, atau Wu-Tang Clan, maka generasi muda sering menyebut nama seperti Eminem dan 50 Cent se...

Review Full Album “Dynamite” Dari Nartok, Gak Rapi Pun Tetap Punya Arah.

Ada masa di mana banyak rapper sibuk mengejar estetika rapi, konsep megah, dan citra yang “terencana.” Semua tampak ingin jadi produk yang bisa dijual, bukan cerita yang hidup. Di tengah kebiasaan itu, Nartok muncul dengan satu langkah berani—membawa kekacauan, tapi dengan niat yang jernih. “Dynamite”, album yang ia rilis pada 7 Agustus 2025, bukan tentang meledakkan apa pun. Ia justru tentang menyalakan api, membiarkan diri terbakar, dan gak berusaha memadamkannya. Judulnya saja sudah provokatif, tapi ketika didengar lebih dalam, “Dynamite” bukan ledakan destruktif. Ia lebih mirip proses peledakan dari dalam—tentang membiarkan hal-hal yang tak terkontrol justru memandu arah. Nartok bilang sendiri, saat nulis dan bikin albumnya, dia “membiarkan semuanya liar.” Tidak ada sensor, tidak ada perhitungan. Dan anehnya, dari situ justru muncul arah yang baru. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Album ini dibuka dengan “Bag of D”. Dari detik pertama, pendengarnya sudah tahu bahwa ini bukan perjalana...