Pada 5 Juni 2024, Morgue Vanguard merilis sebuah karya reflektif berjudul “Membebaskan Hujan dari Tirani Puisi”, sebuah lagu yang sebenarnya sudah lama ingin kami review karna bagi kami karya ini lebih dari sekadar rangkaian lirik, tetapi seperti sebuah catatan perjalanan batin. Karya ini terasa seperti memoar yang ditulis di antara puing ingatan, cinta yang tak sederhana, dan upaya melawan tirani makna yang sering mengikat kata-kata dalam belenggu metafora.
Lagu ini berbicara tentang ‘cinta yang tak ingin dibatasi oleh klise’. Ungkapan “Kuingin mencintaimu dengan tidak sederhana” seolah Morgue Vanguard sedang menolak formula puitis yang terlalu rapi, dan justru memilih cinta yang rawan, nyata, serta melekat pada keseharian.
Di balik liriknya, ada kritik halus terhadap tirani bahasa dan tradisi sastra tentang bagaimana puisi kadang menjadi penjara, bukannya ruang kebebasan. Ia mengibaratkan cintanya bagai “membebaskan derai pohon tua di Jalan Cemara dari pikat kalimat berpantun dan kuasa metafora”.
Di sini, Morgue Vanguard sepertinya ingin mencoba memerdekakan ekspresi dari formalitas, mengembalikan bahasa pada kesederhanaan yang justru lebih jujur.
Lewat lagu ini pula, tampak mengajak pendengar untuk menghidupi kembali pengalaman dan kenangan personal. Ia menyinggung referensi budaya populer dari Duran Duran hingga Axl Rose sebagai simbol perjalanan waktu yang berkelindan dengan kehidupan pribadinya. Potongan kenangan kecil, seperti ‘setermos air panas tetangga’ atau ‘tarian pertama Alyssa’, menunjukkan betapa cinta baginya adalah akumulasi momen sederhana, bukan sekadar narasi besar.
Mencintai secara ‘tidak sederhana’ berarti merangkul kompleksitas hidup baik luka maupun bahagia, baik masa lalu maupun masa depan. Lagu ini adalah perayaan akan kerentanan manusia, dan undangan untuk memaknai kembali puisi sebagai jalan menuju kebebasan.
HIPHOPLOCALINDO