Skip to main content

Dibalik Lagu "Membebaskan Hujan Dari Tirani - Puisi Morgue Vanguard"

 



Pada 5 Juni 2024, Morgue Vanguard merilis sebuah karya reflektif berjudul “Membebaskan Hujan dari Tirani Puisi”, sebuah lagu yang sebenarnya sudah lama ingin kami review karna bagi kami karya ini lebih dari sekadar rangkaian lirik, tetapi seperti sebuah catatan perjalanan batin. Karya ini terasa seperti memoar yang ditulis di antara puing ingatan, cinta yang tak sederhana, dan upaya melawan tirani makna yang sering mengikat kata-kata dalam belenggu metafora.

Lagu ini berbicara tentang ‘cinta yang tak ingin dibatasi oleh klise’. Ungkapan “Kuingin mencintaimu dengan tidak sederhana” seolah Morgue Vanguard sedang menolak formula puitis yang terlalu rapi, dan justru memilih cinta yang rawan, nyata, serta melekat pada keseharian.


Di balik liriknya, ada kritik halus terhadap tirani bahasa dan tradisi sastra tentang bagaimana puisi kadang menjadi penjara, bukannya ruang kebebasan. Ia mengibaratkan cintanya bagai “membebaskan derai pohon tua di Jalan Cemara dari pikat kalimat berpantun dan kuasa metafora”.
Di sini, Morgue Vanguard sepertinya ingin mencoba memerdekakan ekspresi dari formalitas, mengembalikan bahasa pada kesederhanaan yang justru lebih jujur.

Lewat lagu ini pula, tampak mengajak pendengar untuk menghidupi kembali pengalaman dan kenangan personal. Ia menyinggung referensi budaya populer dari Duran Duran hingga Axl Rose sebagai simbol perjalanan waktu yang berkelindan dengan kehidupan pribadinya. Potongan kenangan kecil, seperti ‘setermos air panas tetangga’ atau ‘tarian pertama Alyssa’, menunjukkan betapa cinta baginya adalah akumulasi momen sederhana, bukan sekadar narasi besar.

Mencintai secara ‘tidak sederhana’ berarti merangkul kompleksitas hidup baik luka maupun bahagia, baik masa lalu maupun masa depan. Lagu ini adalah perayaan akan kerentanan manusia, dan undangan untuk memaknai kembali puisi sebagai jalan menuju kebebasan.

HIPHOPLOCALINDO


Popular posts from this blog

Dua Wajah Green Keyz di “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain!

Green Keyz lagi-lagi ngebuktiin kalau dia bukan tipe rapper yang cuma ngeluarin lagu buat numpang lewat. Lewat dua rilisan barunya, “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain”, ia datang dengan energi baru. campuran antara semangat hidup, keresahan batin, dan refleksi personal yang jarang banget muncul di skena hip-hop lokal. Dua track ini jadi pembuka menuju album barunya, hasil kolaborasi dengan produser Erick a.k.a The Lab Man — sosok yang dikenal punya karakter sound eksperimental, kadang liar, kadang kalem, tapi selalu punya kedalaman emosional yang kental. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Kalau lo udah pernah denger karya The Lab Man, lo pasti tahu: beat-nya nggak sekadar beat, tapi atmosfer. “Bangun” jadi semacam anthem buat siapa aja yang pernah jatuh dan ngerasa dunia lagi nggak berpihak. Green Keyz nggak berusaha ngasih motivasi murahan, tapi dia cerita langsung dari pengalamannya sendiri—jujur, mentah, tanpa sensor. Lewat flow-nya yang padat dan lirik yang real, dia ngajak semua oran...

Dari Thrash Metal ke Rhyme Pays: Perjalanan Xaqhala Menjaga Nyala Hip Hop di Indonesia

Xaqhala Rapper yang mempunyai nama asli Gerry Koenadi. perjalanan menuju dunia Hip Hop dimulai secara tak terduga. Awalnya, ia adalah penggemar berat thrash metal di awal tahun 90-an. Namun, sebuah kolaborasi legendaris antara Public Enemy dan Anthrax mengubah haluan pendengarannya. Perpaduan rap dengan energi metal menjadikannya terpikat, membuka jalan menuju dunia baru yang kemudian menjadi bagian besar dari kehidupan. Gerry melihat dari dekat bagaimana Hip Hop berevolusi dari dekade 80-an hingga 2000-an. Ia menyebut awal tahun 90-an sebagai “Era Keemasan” — masa ketika album dan artis legendaris bermunculan, membentuk fondasi budaya ini. Meski kini subgenre Hip Hop tumbuh di mana-mana, Gerry tetap memegang preferensi pada gaya old school. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Menariknya, ia mencatat perbedaan generasi dalam memandang istilah “old school.” Jika bagi dirinya old school berarti Rakim, Nas, atau Wu-Tang Clan, maka generasi muda sering menyebut nama seperti Eminem dan 50 Cent se...

Review Full Album “Dynamite” Dari Nartok, Gak Rapi Pun Tetap Punya Arah.

Ada masa di mana banyak rapper sibuk mengejar estetika rapi, konsep megah, dan citra yang “terencana.” Semua tampak ingin jadi produk yang bisa dijual, bukan cerita yang hidup. Di tengah kebiasaan itu, Nartok muncul dengan satu langkah berani—membawa kekacauan, tapi dengan niat yang jernih. “Dynamite”, album yang ia rilis pada 7 Agustus 2025, bukan tentang meledakkan apa pun. Ia justru tentang menyalakan api, membiarkan diri terbakar, dan gak berusaha memadamkannya. Judulnya saja sudah provokatif, tapi ketika didengar lebih dalam, “Dynamite” bukan ledakan destruktif. Ia lebih mirip proses peledakan dari dalam—tentang membiarkan hal-hal yang tak terkontrol justru memandu arah. Nartok bilang sendiri, saat nulis dan bikin albumnya, dia “membiarkan semuanya liar.” Tidak ada sensor, tidak ada perhitungan. Dan anehnya, dari situ justru muncul arah yang baru. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Album ini dibuka dengan “Bag of D”. Dari detik pertama, pendengarnya sudah tahu bahwa ini bukan perjalana...