Skip to main content

“Di Balik Keseruan Tomodachi: Ada Pertarungan yang Terabaikan”

Belakangan ini tren Remix Tomodachi semakin mengemuka di kalangan pecinta hip-hop Indonesia. Dengan besarnya animo pendengar bahkan merajai trending topik 1 di youtube, kehadiran Tomodachi telah menyita perhatian banyak orang, dengan banyak yang mengikuti gaya dan pesan yang diusungnya. Tiap kota di indonesia saling membuat Remix Tren tersebut.

Namun, sayangnya banyak juga yang lupa atau terabaikan dimana mereka bisa saja menyelipkan pesan pesan dalam liriknya untuk menyuarakan tentang masalah-masalah sosial yang berpotensi memengaruhi kehidupan masyarakat. Mengingat Budaya hip-hop telah lama menjadi suara bagi mereka yang terpinggirkan, dan mungkin saatnya untuk kembali ke akar tersebut. Kami rasa juga tidak ada yang salah dengan itu, hanya saja sangat disayangkan.”

Kita bisa lihat dari kasus kasus yang sampai hari ini masih diperjuangkan seperti contohnya Kasus Rempang, sengketa lahan di Dago Elos, konflik Wadas, Tragedi Kanjuruhan dan sebagainya yang masih butuh perhatian khusus dan perlu di suarakan lebih banyak lagi. Kami rasa Tren Remix Tomodachi jadi momentum yang bagus sekali untuk mengangkat isu isu penting diatas agar bisa didengar dan mendapatkan perhatian lebih dari banyak orang.

Sengketa tanah di Rempang adalah salah satu contoh nyata di mana masyarakat lokal berjuang untuk mempertahankan hak atas tanah mereka. Masyarakat di Dago Elos juga mengalami konflik serupa, di mana kepentingan pembangunan sering kali mengabaikan suara masyarakat. Di sisi lain, konflik di Wadas menunjukkan bagaimana protes terhadap pembangunan dapat berujung pada ketegangan antara masyarakat dan aparat.

Tidak kalah penting, tragedi Kanjuruhan yang mengguncang dunia sepak bola Indonesia masih menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga korban. Insiden tersebut menuntut keadilan dan pengingat bahwa keselamatan dan hak asasi manusia harus menjadi prioritas utama.

Dalam konteks ini, tidak ada yang salah dengan menikmati tren yang sedang berkembang. Namun, adalah disayangkan jika kita mengabaikan isu-isu yang seharusnya mendapatkan perhatian juga dengan momentum yang ada saat ini.

Melalui karya seni dan lirik, para seniman hip-hop dapat membawa kesadaran akan isu-isu ini ke permukaan. Dengan cara ini, hip-hop tidak hanya menjadi alat ekspresi diri, tetapi juga platform untuk perubahan sosial yang berarti. Mari kita berharap bahwa dengan semakin populernya Tomodachi, akan ada juga kebangkitan kesadaran terhadap isu-isu penting yang perlu diperjuangkan.


HIPHOPLOCALINDO 

Popular posts from this blog

Dua Wajah Green Keyz di “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain!

Green Keyz lagi-lagi ngebuktiin kalau dia bukan tipe rapper yang cuma ngeluarin lagu buat numpang lewat. Lewat dua rilisan barunya, “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain”, ia datang dengan energi baru. campuran antara semangat hidup, keresahan batin, dan refleksi personal yang jarang banget muncul di skena hip-hop lokal. Dua track ini jadi pembuka menuju album barunya, hasil kolaborasi dengan produser Erick a.k.a The Lab Man — sosok yang dikenal punya karakter sound eksperimental, kadang liar, kadang kalem, tapi selalu punya kedalaman emosional yang kental. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Kalau lo udah pernah denger karya The Lab Man, lo pasti tahu: beat-nya nggak sekadar beat, tapi atmosfer. “Bangun” jadi semacam anthem buat siapa aja yang pernah jatuh dan ngerasa dunia lagi nggak berpihak. Green Keyz nggak berusaha ngasih motivasi murahan, tapi dia cerita langsung dari pengalamannya sendiri—jujur, mentah, tanpa sensor. Lewat flow-nya yang padat dan lirik yang real, dia ngajak semua oran...

Dari Thrash Metal ke Rhyme Pays: Perjalanan Xaqhala Menjaga Nyala Hip Hop di Indonesia

Xaqhala Rapper yang mempunyai nama asli Gerry Koenadi. perjalanan menuju dunia Hip Hop dimulai secara tak terduga. Awalnya, ia adalah penggemar berat thrash metal di awal tahun 90-an. Namun, sebuah kolaborasi legendaris antara Public Enemy dan Anthrax mengubah haluan pendengarannya. Perpaduan rap dengan energi metal menjadikannya terpikat, membuka jalan menuju dunia baru yang kemudian menjadi bagian besar dari kehidupan. Gerry melihat dari dekat bagaimana Hip Hop berevolusi dari dekade 80-an hingga 2000-an. Ia menyebut awal tahun 90-an sebagai “Era Keemasan” — masa ketika album dan artis legendaris bermunculan, membentuk fondasi budaya ini. Meski kini subgenre Hip Hop tumbuh di mana-mana, Gerry tetap memegang preferensi pada gaya old school. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Menariknya, ia mencatat perbedaan generasi dalam memandang istilah “old school.” Jika bagi dirinya old school berarti Rakim, Nas, atau Wu-Tang Clan, maka generasi muda sering menyebut nama seperti Eminem dan 50 Cent se...

Review Full Album “Dynamite” Dari Nartok, Gak Rapi Pun Tetap Punya Arah.

Ada masa di mana banyak rapper sibuk mengejar estetika rapi, konsep megah, dan citra yang “terencana.” Semua tampak ingin jadi produk yang bisa dijual, bukan cerita yang hidup. Di tengah kebiasaan itu, Nartok muncul dengan satu langkah berani—membawa kekacauan, tapi dengan niat yang jernih. “Dynamite”, album yang ia rilis pada 7 Agustus 2025, bukan tentang meledakkan apa pun. Ia justru tentang menyalakan api, membiarkan diri terbakar, dan gak berusaha memadamkannya. Judulnya saja sudah provokatif, tapi ketika didengar lebih dalam, “Dynamite” bukan ledakan destruktif. Ia lebih mirip proses peledakan dari dalam—tentang membiarkan hal-hal yang tak terkontrol justru memandu arah. Nartok bilang sendiri, saat nulis dan bikin albumnya, dia “membiarkan semuanya liar.” Tidak ada sensor, tidak ada perhitungan. Dan anehnya, dari situ justru muncul arah yang baru. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Album ini dibuka dengan “Bag of D”. Dari detik pertama, pendengarnya sudah tahu bahwa ini bukan perjalana...