Skip to main content

Damero: “Rap Jadi Tempat Sampah Biar Nggak Gila”




Seorang rapper yang mulai dikenal melalui karya-karyanya yang segar dan penuh energi. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Damero berbagi tentang perjalanan karier, tantangan, hingga harapannya untuk industri musik hip-hop di Indonesia.


Damero mengaku awal mula terjun ke dunia rap adalah karena iseng semata. “Awalnya iseng-iseng doang sih, terus seiring waktu gw main-main ke komunitasnya, eh ternyata seru juga,” ungkapnya sambil tertawa. Ia menemukan banyak pelajaran dan inspirasi dari berbagai orang yang ditemuinya di komunitas tersebut. “Mungkin sekarang rap udah jadi 'tempat sampah' biar gak gila aja,” tambah dengan candaan khasnya.



Lagu terbaru Damero, SWAG ON, memiliki proses kreatif yang menarik. “Awalnya gw nemu sample perkusi afro di Splice, terus entah kenapa malah bikin afro trap gitu,” jelasnya. Menurutnya, beat lagu ini memiliki getaran yang swag dengan ruang yang pas untuk eksplorasi. “Banyak ruang tapi tengilnya tetep dapet,” kata Damero.


Tantangan sebagai Rapper di Indonesia

Damero menyebut salah satu tantangan terbesar sebagai rapper di Indonesia adalah pasar hip-hop yang belum terlalu besar. Meski begitu, ia tetap optimis. "Dengan platform yang cukup banyak sekarang ini, bisa-bisa aja kok. No big deal asal kitanya juga gerak dan nggak mager buat networking," ujarnya penuh semangat.


Perkembangan Hip-Hop di Jakarta

Berbicara tentang hip-hop di Jakarta, Damero merasa genre ini sedang berkembang pesat. “Sekarang hip-hop di Jakarta seru banget karena bener-bener beragam,” ujarnya. Ia melihat semakin banyak orang yang mulai melirik hip-hop sebagai genre musik yang menarik.


Rencana Besar 2025

Damero memiliki rencana besar untuk tahun 2025. “Kalau semuanya lancar, gw mau merilis beberapa single terus full album,” ungkapnya. Saat ini, ia masih dalam proses mengumpulkan materi untuk album tersebut. “Lakukan aja ya!” menambahkan penuh harap.


Musisi Impian untuk Kolaborasi

Jika diberi kesempatan, Damero ingin berkolaborasi dengan Barasuara. “HAHAHA AMINNN,” serunya antusias, menunjukkan kekagumannya pada grup musik tersebut.


Pesan untuk Pendengar

Di akhir wawancara, Damero menyampaikan rasa terima kasih kepada para pendengarnya. “Buat temen-temen yang udah dengerin lagu gw bahkan sampai taro di playlist kalian, itu bener-bener berarti banget buat gw,” katanya dengan tulus. “Siapalah kita-kita para musisi ini tanpa orang-orang yang mendengarkan lagu kita, yekan?”


Dengan semangat dan karya-karyanya, Damero membuktikan bahwa rap bukan hanya tentang musik, tapi juga perjalanan, ekspresi, dan komunitas. Mari nantikan gebrakan berikutnya dari rapper berbakat ini!


Teks oleh Yozgie

KLIK INI UNTUK DUKUNGAN

KLIK INI UNTUK JAJAN MERCH TERBARU


HIPHOPLOCALINDO





Popular posts from this blog

Dua Wajah Green Keyz di “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain!

Green Keyz lagi-lagi ngebuktiin kalau dia bukan tipe rapper yang cuma ngeluarin lagu buat numpang lewat. Lewat dua rilisan barunya, “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain”, ia datang dengan energi baru. campuran antara semangat hidup, keresahan batin, dan refleksi personal yang jarang banget muncul di skena hip-hop lokal. Dua track ini jadi pembuka menuju album barunya, hasil kolaborasi dengan produser Erick a.k.a The Lab Man — sosok yang dikenal punya karakter sound eksperimental, kadang liar, kadang kalem, tapi selalu punya kedalaman emosional yang kental. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Kalau lo udah pernah denger karya The Lab Man, lo pasti tahu: beat-nya nggak sekadar beat, tapi atmosfer. “Bangun” jadi semacam anthem buat siapa aja yang pernah jatuh dan ngerasa dunia lagi nggak berpihak. Green Keyz nggak berusaha ngasih motivasi murahan, tapi dia cerita langsung dari pengalamannya sendiri—jujur, mentah, tanpa sensor. Lewat flow-nya yang padat dan lirik yang real, dia ngajak semua oran...

Dari Thrash Metal ke Rhyme Pays: Perjalanan Xaqhala Menjaga Nyala Hip Hop di Indonesia

Xaqhala Rapper yang mempunyai nama asli Gerry Koenadi. perjalanan menuju dunia Hip Hop dimulai secara tak terduga. Awalnya, ia adalah penggemar berat thrash metal di awal tahun 90-an. Namun, sebuah kolaborasi legendaris antara Public Enemy dan Anthrax mengubah haluan pendengarannya. Perpaduan rap dengan energi metal menjadikannya terpikat, membuka jalan menuju dunia baru yang kemudian menjadi bagian besar dari kehidupan. Gerry melihat dari dekat bagaimana Hip Hop berevolusi dari dekade 80-an hingga 2000-an. Ia menyebut awal tahun 90-an sebagai “Era Keemasan” — masa ketika album dan artis legendaris bermunculan, membentuk fondasi budaya ini. Meski kini subgenre Hip Hop tumbuh di mana-mana, Gerry tetap memegang preferensi pada gaya old school. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Menariknya, ia mencatat perbedaan generasi dalam memandang istilah “old school.” Jika bagi dirinya old school berarti Rakim, Nas, atau Wu-Tang Clan, maka generasi muda sering menyebut nama seperti Eminem dan 50 Cent se...

Review Full Album “Dynamite” Dari Nartok, Gak Rapi Pun Tetap Punya Arah.

Ada masa di mana banyak rapper sibuk mengejar estetika rapi, konsep megah, dan citra yang “terencana.” Semua tampak ingin jadi produk yang bisa dijual, bukan cerita yang hidup. Di tengah kebiasaan itu, Nartok muncul dengan satu langkah berani—membawa kekacauan, tapi dengan niat yang jernih. “Dynamite”, album yang ia rilis pada 7 Agustus 2025, bukan tentang meledakkan apa pun. Ia justru tentang menyalakan api, membiarkan diri terbakar, dan gak berusaha memadamkannya. Judulnya saja sudah provokatif, tapi ketika didengar lebih dalam, “Dynamite” bukan ledakan destruktif. Ia lebih mirip proses peledakan dari dalam—tentang membiarkan hal-hal yang tak terkontrol justru memandu arah. Nartok bilang sendiri, saat nulis dan bikin albumnya, dia “membiarkan semuanya liar.” Tidak ada sensor, tidak ada perhitungan. Dan anehnya, dari situ justru muncul arah yang baru. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Album ini dibuka dengan “Bag of D”. Dari detik pertama, pendengarnya sudah tahu bahwa ini bukan perjalana...