Skip to main content

Basboi: Optimisme dan Tantangan dalam Skena Hip-Hop Indo!




Rapper Basboi, salah satu talenta yang semakin bersinar di skena hip-hop Indonesia, berbagi perkembangan tentang industri yang penuh warna ini. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Basboi menceritakan pengamatannya, proses kreatifnya, hingga harapannya untuk masa depan hip-hop Indonesia.
Saat ditanya tentang kondisi skena hip-hop Indonesia saat ini, Basboi menjawab dengan antusiasme yang tulus. “Berkembang pesat, bergeliat, dan penuh kejutan.Sampai kadang bikin mikir, 'Buset, orang Indo nih',” ungkapnya. Ia melihat pertumbuhan yang signifikan dalam kreativitas dan keberagaman, meskipun masih ada tantangan yang perlu diatasi.


Salah satu elemen yang dirasa kurang oleh Basboi adalah eksklusivitas yang masih kental di dunia hip-hop lokal. “Belum banyak yang bisa menembus pasar umum,” jelasnya. Ia menyoroti pentingnya meningkatkan daya tarik hip-hop sebagai produk, baik dari segi musikalitas maupun penampilan. "Rap itu di luar negeri sudah jadi budaya pop. Di Indonesia, perlu langkah-langkah kecil, seperti meningkatkan performa panggung, sampai memperdalam musikalitas."

Basboi percaya bahwa pendekatan profesional bisa membawakan hip-hop lebih diterima oleh khalayak luas. “Toh, di luar sana rapper sudah jadi popstar. Kita juga bisa.”

Proses Kreatif: Hidup dan Berkarya
Tentang proses kreatifnya, Basboi menyebut bahwa ia hanya menjalani hidup dan menikmati hal-hal yang disukainya, seperti musik, buku, fashion, game, hingga otomotif. “Saya mencoba untuk tertarik agar saya menarik,” katanya. Inspirasi datang dari kehidupan sehari-hari, yang kemudian diterjemahkan menjadi lagu dengan visualisasi turunan yang terencana matang, termasuk strategi pemasaran dan kolaborasi.

Basboi mengungkapkan bahwa di tahun 2024 menjadi tahun yang sibuk dan penuh kejutan. Ia berkolaborasi dengan Andien dan The Adams, sekaligus menjabat sebagai direktur kreatif untuk PSMS Medan. Tidak hanya itu, ia juga memberikan para penggemar kabar tentang album kedua yang dijadwalkan rilis pada tahun 2025.

Sebagai bagian dari generasi baru hip-hop, Basboi mengapresiasi keterbukaan para seniornya. Ia menyebut nama-nama seperti Bang Jawir, Tuan13, Igor, Laze, dan Mattermos sebagai contoh abang-abangan yang mendukung inovasi. “Tapi mungkin, abang-abangan secara stereotipe masih cenderung purist dan skeptis terhadap new wave,” ujarnya. Meski begitu, ia percaya bahwa gelombang baru tidak akan berhenti.

Basboi berharap agar hip-hop Indonesia terus berkembang dengan gigih. “Semoga kuat-kuat, gigih-gigih, rajin-rajin,” katanya dengan singkat namun penuh makna.

Sebagai penutup, Basboi menyampaikan apresiasi mendalam kepada para penggemarnya. “Terima kasih sebesar-besarnya sudah memikat telinga, waktu, pikiran, perasaan, bahkan sampai materi. Banyak yang mengubah hidup saya.”

Untuk rapper muda, ia menyemangati mereka dengan optimisme. “Hip-hop adalah masa depan. Percayalah.”

Basboi bukan sekadar rapper, tapi juga seorang visioner yang terus mendorong batasan dalam dunia hip-hop Indonesia. Dengan karya-karyanya, ia membuktikan bahwa musik adalah jembatan untuk menyatukan mimpi dan kenyataan.

Teks Oleh Yozgie

Popular posts from this blog

Dua Wajah Green Keyz di “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain!

Green Keyz lagi-lagi ngebuktiin kalau dia bukan tipe rapper yang cuma ngeluarin lagu buat numpang lewat. Lewat dua rilisan barunya, “Bangun” dan “Am I Hero or a Villain”, ia datang dengan energi baru. campuran antara semangat hidup, keresahan batin, dan refleksi personal yang jarang banget muncul di skena hip-hop lokal. Dua track ini jadi pembuka menuju album barunya, hasil kolaborasi dengan produser Erick a.k.a The Lab Man — sosok yang dikenal punya karakter sound eksperimental, kadang liar, kadang kalem, tapi selalu punya kedalaman emosional yang kental. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Kalau lo udah pernah denger karya The Lab Man, lo pasti tahu: beat-nya nggak sekadar beat, tapi atmosfer. “Bangun” jadi semacam anthem buat siapa aja yang pernah jatuh dan ngerasa dunia lagi nggak berpihak. Green Keyz nggak berusaha ngasih motivasi murahan, tapi dia cerita langsung dari pengalamannya sendiri—jujur, mentah, tanpa sensor. Lewat flow-nya yang padat dan lirik yang real, dia ngajak semua oran...

Dari Thrash Metal ke Rhyme Pays: Perjalanan Xaqhala Menjaga Nyala Hip Hop di Indonesia

Xaqhala Rapper yang mempunyai nama asli Gerry Koenadi. perjalanan menuju dunia Hip Hop dimulai secara tak terduga. Awalnya, ia adalah penggemar berat thrash metal di awal tahun 90-an. Namun, sebuah kolaborasi legendaris antara Public Enemy dan Anthrax mengubah haluan pendengarannya. Perpaduan rap dengan energi metal menjadikannya terpikat, membuka jalan menuju dunia baru yang kemudian menjadi bagian besar dari kehidupan. Gerry melihat dari dekat bagaimana Hip Hop berevolusi dari dekade 80-an hingga 2000-an. Ia menyebut awal tahun 90-an sebagai “Era Keemasan” — masa ketika album dan artis legendaris bermunculan, membentuk fondasi budaya ini. Meski kini subgenre Hip Hop tumbuh di mana-mana, Gerry tetap memegang preferensi pada gaya old school. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Menariknya, ia mencatat perbedaan generasi dalam memandang istilah “old school.” Jika bagi dirinya old school berarti Rakim, Nas, atau Wu-Tang Clan, maka generasi muda sering menyebut nama seperti Eminem dan 50 Cent se...

Review Full Album “Dynamite” Dari Nartok, Gak Rapi Pun Tetap Punya Arah.

Ada masa di mana banyak rapper sibuk mengejar estetika rapi, konsep megah, dan citra yang “terencana.” Semua tampak ingin jadi produk yang bisa dijual, bukan cerita yang hidup. Di tengah kebiasaan itu, Nartok muncul dengan satu langkah berani—membawa kekacauan, tapi dengan niat yang jernih. “Dynamite”, album yang ia rilis pada 7 Agustus 2025, bukan tentang meledakkan apa pun. Ia justru tentang menyalakan api, membiarkan diri terbakar, dan gak berusaha memadamkannya. Judulnya saja sudah provokatif, tapi ketika didengar lebih dalam, “Dynamite” bukan ledakan destruktif. Ia lebih mirip proses peledakan dari dalam—tentang membiarkan hal-hal yang tak terkontrol justru memandu arah. Nartok bilang sendiri, saat nulis dan bikin albumnya, dia “membiarkan semuanya liar.” Tidak ada sensor, tidak ada perhitungan. Dan anehnya, dari situ justru muncul arah yang baru. KLIK INI UNTUK DUKUNGAN   Album ini dibuka dengan “Bag of D”. Dari detik pertama, pendengarnya sudah tahu bahwa ini bukan perjalana...