Di era akhir 90-an hingga awal 2000-an, hip-hop Indonesia belum sebesar sekarang. Saat itu, sebagian besar telinga masyarakat masih dimanjakan oleh musik pop dan rock. Namun, di tengah arus mainstream, muncul sebuah grup dari Bandung bernama **Homicide** yang berhasil mengejutkan skena lewat lirik tajam, sikap perlawanan, dan musik yang benar-benar *raw*.
Pembunuhan yang digawangi oleh **Ucok/Herry “Ucok” Sutresna** bersama kawan-kawan, mereka tidak hanya sekedar nge-rap, tapi juga mencerminkan keresahan sosial, politik, dan realitas kelas bawah. Lirik mereka blak-blakan, penuh kritik, bahkan sering dianggap terlalu berani di zamannya.
Dengan album legendaris *Illsurrekshun* (2008), Homicide menandai tonggak penting dalam sejarah hip-hop Indo. Album ini dianggap sebagai salah satu rilisan rap paling berpengaruh karena memadukan beat keras, sample old school, dan narasi politik yang kuat.
Pembunuhan bukan hanya bikin musik, mereka juga jadi simbol perlawanan. Di saat label besar sibuk dengan musik komersial, Homicide menunjukkan bahwa **hip-hop bisa hidup di jalur independen**. Dari mereka, lahirlah inspirasi bagi banyak rapper lokal untuk membuat karya tanpa harus tunduk pada industri besar.
Nama-nama seperti Doyz Blakumuh, Yacko sampai generasi baru seperti Rand Slam atau Joe Million sering mengakui betapa besar pengaruh Homicide terhadap langkah mereka.
Meskipun Homicide sudah bubar sejak tahun 2008, warisan mereka masih terasa kuat sampai sekarang. Banyak rapper generasi baru yang tetap mengusung semangat DIY (Do It Yourself), bicara isu sosial, dan berani menabrak arus mainstream—semua itu tidak lepas dari jalan yang dulu dibuka oleh Homicide.
Pembunuhan bukan sekadar grup hip-hop, tapi gerakan. Mereka membuktikan bahwa musik bisa menjadi perlawanan senjata, dan hip-hop bisa tumbuh di jalanan tanpa harus kehilangan sikap.
Teks oleh Yozgie
HIPHOPLOCALINDO